Antok Suryaden

“Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara --pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka”. Mikhail Bakunin, saat kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868).

Entah apa jadinya tanpa negara, tanpa komunisme dan tanpa kapitalisme, mungkin indah, mungkin sepi, mungkin pating blasur, atau entahlah, belum pernah merasakan. Pemikiran indah seperti ini memang hanya untuk kalangan tertentu atau manusia tertentu dengan level kesadaran tertentu pula, tidak perlu diatur, tidak perlu sanksi, tidak perlu polisi, tidak perlu hukum, karena semuanya sudah tersistem dalam otaknya dan lingkungan yang kondusif, tentunya damai, tanpa perang, tanpa ada saling ejek, maupun pembenaran diri diri dan menganggap orang lain sesat.

Begitu jenius orang-orang anarkhis, hingga ideologinya dianggap sesat bahkan dianggap sama dengan brutalisme, padahal sangat jauh sekali perbedaannya, sudah jelas orang yang menganggap bahwa anarkhisme adalah brutalisme sangat tidak paham atau mereka adalah orang komunis atau kapitalis, bahkan mungkin dari utusan golongan tertentu yang jelas mengagungkan kekuasaan, aturan dan apapun yang bisa menjerat orang lain.

Sudah semakin jauh troubleshooting untuk mengatasi permasalahan dalam banyak bidang saat ini, sehingga gerakan mandiri tidak tergantung pada kekuasaan dan permen-permennya sudah tidak terasa manis lagi karena selalu saja hanya membela kalangan dan kelompok tertentu, meski apapun kata-kata manis yang membelenggunya.

Mungkin untuk saat ini karena para punggawa yang sedang dimabuk tiran kekuasaan membutuhkan suasana kondusif dan tenang, hanya satu gerakan anarkhis sajalah yang harus diandalkan, yaitu tidak usah peduli dengan masalah yang ada, karena toh mereka sudah berkonsolidasi dan berembug untuk memutuskan segala sesuatunya, karena negeri yang indah ini sudah bukan milik pemiliknya lagi. Sudah dibeli dengan sebuah kontes, dan persaingan lima tahun sekali untuk melahirkan tirani yang saat ini sedang bersandiwara dan bekerja demi tuntunan agamanya yaitu kejayaan dan kesejahteraan pribadi.

kutipan dikutip dari http://ind.anarchopedia.org/Anarkisme.