Pulau Jawa

Dalam beberapa obrolan santai tanpa tujuan didapatkan beberapa jawaban ngawur tentang dimanakah pintu pulau Jawa?. Dikatakan yang jelas bukan di sebelah selatan, karena akses ke luar melalu laut memang sangat jarang berada di Selatan Jawa. Laut yang tenang, damai dan menghubungkan nusantara ada di Pantai Utara. Make sense.

Kekayaan secara ekonomi berkembang di Pantura, bukan hanya itu seni-seni arsitektur, rumah-rumah dan keberagaman juga subur di Pantai Utara Jawa. Daerah selatan memang terasa sangat ketinggalan karena akses tersebut namun menyimpan juga banyak kekayaan, terutama untuk ketenangan jiwa. Selain Gunung-gunung yang aktif dan galak juga berada di wilayah tengah hingga selatan Pulau ini.

Beberapa kota memang bisa dan berpotensi menjadi besar. Menyimpan dan memproduksi budaya, pemandangan indah dan produksi ketenangan kejiwaan yang lain dengan sisi utara. Cenderung lebih santai, tidak menghentak-hentak karena roda ekonomi yang tidak terlalu kencang. Berbeda sekali pantai selatan dan pantai utara Jawa. Memiliki keunikan lagi memang di tengah-tengahnya, karena bisa ke utara maupun ke selatan, tengah pun memiliki keanekaragaman produksi pengetahuan dan budaya. Karena cenderung ke agro, gunung dan hutan-hutan yang semakin gersang saja, diserang kepentingan manusia untuk kehidupan dan tempat mengadu nasib.

Jumlah manusia yang semakin banyak memang menjadikan suasana menjadi labih hangat. Transportasi yang selalu hidup dan akses yang semakin menuju perbaikan menjadikan pulau ini terasa semakin indah dan tidak terasa luas. Karena akses kecepatan transportasi yang semakin irit waktu. Dilain pihak memang kemacetan karena hal ini cukup membuat kusam. Semakin sulit menentukan kapan dapat mencapai kota lain dengan hitungan jam. Hambatan pun bertebaran di mana-mana. Meskipun kelompok kaya yang mungkin hanya 1 persen bisa mengatasi hal ini dengan terbang dengan pesawat pribadi misalnya.

Masa sekarang di masa Pak Jokowi ini berbagai kesempatan dibuka. Pemerintah Pusat membuat bermacam-macam kawasan berdasarkan aglomerasi perkotaan, untuk memudahkan dan membantu berkembangnya perekonomian di lokal. Proyek Strategis Nasional dan Kawasan Ekonomi Khusus digeber. Jalan tol dan jalan kereta api bersolek. Layanan transportasi harus bersaing satu sama lain. Adanya jalan bebas hambatan memang idaman, bagi para pebisnis atau individu yang memiliki urusan antar kota di beberapa wilayah. Orang-orang ini diantaranya adalah para penggerak ekonomi dan sebagainya, selain aktivis wisata yang juga tidak boleh diremehkan dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

Berbagai kota hingga desa mulai memperbaiki diri dengan fasilitas-fasilitas yang bercorak kekinian, demi tidak tertinggal dan berusaha mendukung pegiat-pegiat ekonomi muda yang sangat cepat mengubah keadaan didukung dengan cepatnya perkembangan teknologi digital dan sebagainya. Fasilitas-fasilitas telekomunikasi dan penyedianya mendulang keuntungan luar biasa tanpa ada yang kembali ke komunitas-komunitas penggunanya, plus bonus pandemi COVID-19 yang menghambat pertemuan-pertemuan fisik sehingga dilakukan secara virtual. Para pemodal dan pemilik modal dalam bidang ini pun memutar otak untuk menghiasi dan mempercantik ranah virtual, dengan tidak lupa untuk memperbanyak cuan dan memompa kekayaannya. Mumpung didukung suasana.

Rakyat kecil atau sebagian besar masyarakat merasakan sebaliknya. Makin hilangnya kanal-kanal untuk berkomunikasi, larangan berkerumun dan harus merogoh kocek yang tidak perlu untuk bervirtual dan berdigital. Harus ikut karena dimana-mana sudah begitu. Ada yang berhasil sukses dan ada juga yang bergelimpangan kehilangan harapan.

Banyaknya tawaran informasi dan penggunaan aplikasi adalah hal baik. Speanjang bisa dipahami. Namun kita tahu, sulitnya ekonomi karena pandemi COVID memiliki impak yang luar biasa, baik positif maupun negatif. Aksi tipu-tipu menggunakan teknologi cukup mewarnai perjalanan waktu kali ini. Selain adanya aksi tipu menipu, sisi lainnya adalah ketidaksiapan menghadapi perubahan zaman seperti ini. Korban berjatuhan karena ketidaktahuan dan nafsu ingin mengejar ketertinggalan ekonomi yang menggebu-gebu. Seakan saat ini tersedia jalan cepat untuk kaya. Yah.. hal biasa yang tidak selalu biasa.

Tak terasa pulau yang kita tinggali ini semakin berubah. Dan berada jauh di depan menunggu manusia penghuninya untuk berkejar-kejaran dengannya.