minum gunung

Pembangunan aslinya adalah projek. Maka tidak akan pernah ada habisnya. Entah itu bermanfaat bagi orang banyak atau sebagian kecila orang, tentu saja yang penting projek berjalan dan dapur ngebul. Pengeruk keuntungan tidak lepas dari adanya proyek pembangunan tersebut. Mereka yang ikut andil dalam proyek pembangunan tersebutlah yang mendapatkan manfaat dari adanya pembangunan. Para pengguna jalan dan infrastruktur adalah rakyat yang memiliki alat dan mobilitas untuk menggunakan dan menikmati hasil proyek pembangunan, yang tidak punya sudah barang tentu jangan tanya deh, emang siapa kalian.

Kerja, kerja, kerja memang tagline yang benar dan bermanfaat, menunjukkan sikap positif untuk bekerja dan mencari uang. Dan celakanya memang tagline itu hanya berhenti di sana. Bagi orang-orang yang bisa dan memiliki modal untuk melakukan kerja. Tagline kelas bisnis ke atas hingga super eksekutif tersebut memang bagaikan sebuah gunung yang tinggi menjulang namun susah dicapai oleh orang yang bermodal dengkul atau orang gunung sendiri yang tiap hari naik gunung namun tidak jelas siapa yang membayarinya.

Sementara itu juga ada ribut mengejar pajak untuk membiayai 'kerja, kerja, kerja' tersebut. Memang terbayang indah seperti gunung namun ketika dari jauh namun ketika didekati adalah padang, hutan dan batuan terjal, jikalau bukan pasir. Negara pun sulit mencari uang apalagi rakyatnya yang kecil. Beberapa orang memang tidak bermasalah dengan hal tersebut karena sudah membangun kerajaannya sejak beberapa rezim yang lampau.

Apa yang diperjuangkan atas nama keadilan memang tidak akan pernah berhenti dan selalu akan laku keras. Keadilan memang diidam-idamkan dan bukan hanya milik golongan tertentu. Para penindas dan orang yang sudah beruntung pun masih akan menuntut keadilan. Rakyat kecil, buruh dan para pengangguran jelas juga menuntut keadilan. Keadilan jadinya memiliki banyak versi, grade dan hirarki. Keadilan pun nampak seperti gunung jadinya. Indah dari jauh, penuh tumbuhan hijau dan subur, sejuk, tenang. Namun ketika didekati memerlukan rangkaian cara dan tenaga untuk dapat mendakinya. Juga tak bisa dimiliki, karena bukan milik siapa-siapa. Gunung itu ada begitu saja, mungkin punya sejarah pada dahulu kala, namun itu kan cuma cerita, saat ini ya tetap saja gunung yang berdiri angkuh.

Meski begitu gunung bisa menghidupi, dia menumbuhkan tumbuhan, menyimpan air, tempat berkembanganya beragam flora dan fauna, bahkan mungkin menyimpan emas dan sebagainya. Gunung tidak menarik pajak dan menuntut yang berteduh dalam kedamaiannya, dia hanya memberikan hukuman pada yang merusaknya jika tidak memperbaikinya. Itupun tidak keterlaluan. Namun gunung memang bukan manusia. Begitupun keadilan.