Bintang Bangsaku

meretas kehancuran kurikulum pendidikan anak usia dini - paud

Idealnya, jika saya adalah kepala sekolah TK dan SD, maka seharusnya saya juga punya kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan SD yang lengkap untuk anak usia 3 tahun 6 bulan sampai dengan usia 12 tahun jauh sebelum saya membuka pintu sekolah lebar-lebar untuk peserta didik. Idealnya, jika saya adalah orang tua, maka saya akan punya kurikulum pendidikan untuk anak mulai sejak ia berada dalam kandungan sampai usia di mana ia harus saya lepas sepenuhnya dalam mengarungi kehidupan ini secara mandiri.

Melongok ke Sekolah

Mungkin berbeda-beda ketika mendengar atau berhadapan dengan sebuah istilah 'standar', terbersit dalam kenakalan atau bunga-bunga di benak, sebuah standar artinya batas atau ukuran, bisa maksimal atau bisa minimal. Namun itu hanyalah sebersit yang ada dalam pertanyaan dalam benak, karena sebenarnya toh semua dari kita mafhum bahwa standar adalah sesuatu yang mau tidak mau harus ada, dan harus dilakukan dan sudah barang tentu itulah hal yang harus dicukupi, tidak boleh kurang namun apabila lebih mungkin saja itu lebih baik dalam tanda kutip, karena memiliki kelebihan, dan tentunya standar tidak boleh mentolerir adanya kekurangan, karena sekali lagi hal itu sudah ditetapkan, sebagai sesuatu yang harus ada dan menjadi pelanggaran atau masalah ketika hal tersebut tidak ada.

Bukan semudah membalik telapak tangan atau semudah membuat peraturan ini untuk mencapai harapan yang sangat idealis sebagaimana termaktub dalam cita-cita Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 bahwa "Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan".

Autis, Difabel, Inklusi

Autis, terserah mau didefinisikan seperti apa itu bukan urusan saya. Karena toh semuanya tidak ada pengaruhnya pada yang mengalaminya. Meski kata para ahlinya ada yang mengatakan sebagai "The Einstein Syndrome" ataupun "The orang Jenius Syndrome" dan lain sebagainya namun bagi pelakunya dan orang tuanya toh itu juga tidak penting, karena yang penting adalah penangannya atau lebih penting lagi adalah mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi. Sebab namanya pencegahan lagi-lagi kata orang-orang pintar itu adalah lebih baik, sebagaimana strategi bertahan yang terbaik adalah menyerang, memang begitu ya, karena sudah terlalu banyak orang pintar yang menganalisa dan urun pendapat yang nantinya menjadi sebuah buku atau penguatan modal kehidupan lainnya. (lmao)

Masih untung tidak ada pungutan pajak untuk penyakit atau terapi untuk menyembuhkan secara eksplisit, namun terbukti juga bahwa aktifitas untuk menyembuhkan dan terapi memang dipajaki. Dan betapa segala macam penyakit itu memang sebuah komoditi, tidak peduli yang terkena adalah anak autis, orang tua, orang kecelakaan, orang mau meninggal dan lain sebagainya. Meski kadang ada tuduhan bengis kepada tembakau dan nikotin sehingga harus ada fatwa maupun peraturan daerah yang melarangnya, toh pajak cukai tembakau pun dipalsukan, atau tetap diproduksi. Ada juga yang mengharamkan kegiatan dengan uang dari hasil rokok, atau produsennya, namun sebagai gantinya adalah uang yang dihasilkan dari keuntungan menyembuhkan orang dengan lembaga yang semakin hari semakin banyak dan mewah-mewah gedungnya, opo tumon. (angry)

bercinta dengan kesempitan

Pengalaman menumbuhkan kecerdasan berpikir, baik berikir baik maupun buruk seakan sudah tidak ada beda dan pemisahnya, sepanjang berguna bagi orang banyak. Disinilah kata orang banyak, kebanyakan dan massa akan menguasai, terlebih ada lagi jargon ' dot dot dot for all' sehingga semuanya ikut-ikutan, dan sepanjang untuk semua maka akan kelihatan bagus dan mulia. Benarkah demikian.. hmm hanya orang banyaklah juga yang menilai, dan mereka pun dalam rangkaian crowd, meski tak bisa berhujat dan berbuat lebih namun adalah sasaran dan tentunya pasar.

Berlangganan RSS - Bintang Bangsaku