minum wafer

wafer
 

minum wafer

Istilah bawa ferasaan, wafer (istilah saya sendiri) yang aslinya adalah baper atau bawa perasaan memang belum lama, belum sampai 5 tahunan lah. Istilah ini muncul di kalangan anak muda yang kemudian kemana-mana karena disukai, ke ranah media sosial hingga menjadi istilah baru yang digunakan banyak orang, bahkan sekarang kebanyakan orang sudah mengetahuinya. Istilah orang-orang muda memang bermunculan terus dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dan begitulah perkembangan waktu yang ditandai dengan generasi dan zaman, membawa perubahan dalam gaya hidup dan pemikiran. Sesuai kebutuhan zaman.

Istilah baper ini semakin ngetop saja terutama sekarang dikaitkan dengan segala hal yang berbau politis. Seiring dengan kerasnya pertarungan politik sejak pilpres 2014 yang membuat Negeri Begajul menjadi was-was. Was-was akan perpecahan, ancaman terhadap kebhinnekaan, ancaman terhadap NKRI hingga kewaspadaan terhadap kelompok intoleran. Kelompok intoleran sendiri adalah perwujudan dari berbagai rasa baper tersebut jika dikait-kaitkan, bagaimana tidak?. Perbedaan pendapat hingga menyebut seseorang atau pendapat atau tindakan seseorang tertentu terhadap penyebutan 'kafir' yang notabene 'kafir' sendiri adalah istilah asing, yang dulunya adalah kata serapan, namun karena saking lamanya, sudah tidak diketahui lagi 'kafir' itu asal dan siapa yang membawa ke Negeri Begajul. Namun yang jelas, istilah 'kafir' tersebut bermaksud untuk mengatakan seseorang yang keluar dari agamanya. Meski saat ini kelompok intoleran dari agama tertentu tersebut yang memiliki Majelis Ulama tertentu tersebut mengatakan orang yang diluar agamanya dengan 'kafir', dan celakanya hal ini bukan dalam rangka dakwah agama, namun dakwah yang berdekatan dengan politik.

Hangat sekali sekarang ketika seorang mantan presiden dianggap baper, dan suka mengumbar cuitan di media sosial. Lebih lagi ketika bapak itu ternyata anaknya menjagokan dirinya menjadi calon gubernur dalam 101 pilkada di bulan Februari 2017 di daerah khusus ibukota tertentu. Sungguh menjadi suguhan pentas politik yang aneh, karena bapak mantan presiden tersebut menjadi sasaran bully yang cukup seru dan selain menjadi hiburan tentunya membuat mengelus dada karena perilaku yang entahlah seperti itu.

101 Pilkada di Negeri Begajul menjadi seakan hanya ada satu saja yaitu di Daerah Khusus tertentu tersebut. Daerah lainnya seakan tak ada gemanya, meski mungkin biayanya juga milyaran rupiah namun Pilkada yang memperebutkan dan diperebutkan oleh orang-orang yang pernah dekat dengan kata-kata 'presiden' tersebut cukup membuat ketertarikan dan magnet keingintahuan untuk mengetahui kemutakhiran kabarnya. Maklum daerah khusus ibukota tertentu tersebut memang memiliki panggung luar biasa sebagai etalase Negeri Begajul.

Sangat menyedihkan betul, di sebuah lokasi yang dikatakan etalase negara tersebut masih menggunakan isu-isu aneh untuk pelaksanaan demokrasi dimana ada isu ras, agama hingga etika. Super sayang memang, namun tentunya juga tidak mengherankan karena kebanyakan kekuatan politik, agama dan entah apa, memiliki kepentingan tampil di etalase.