Perkembangan Mental Anak Usia SMP

Dalam 8 tahap teori perkembangan Erik Erikson Anak SMP berada pada tahap perkembangan tingkat adolescence, dimana urutan sebelum anak SMP adalah tahap bayi usia 0 hingga 1 tahun adalah tentang harapan Trust vs. Mistrust, kemudian tahap kemauan pada usia 2 sampai 3 tahun atau biasa disebut Todllers tentang shame and doubt, kemudian tahap Purpose yaitu Initiative vs. Guilt disebut juga sebagai Preschool pada usia 4 sampai 6 tahun, tahapan selanjutnya adalah kompetensi pada usia 7 sampai 11 tahun sebelum menjadi anak SMP yaitu tentang industri versus inferiority.


"It is human to have a long childhood; it is civilized to have an even longer childhood. Long childhood makes a technical and mental virtuoso out of man, but it also leaves a life-long residue of emotional immaturity in him."
— Erik Homburger Erikson (1902-1994)

Tahapan setelah anak SMP adalah tahap cinta yaitu tentang intimasi melawan isolasi pada usia 20 hingga 34 tahun. Diteruskan ke tahap berikutnya yaitu tahap kepedulian atau care tentang generativity melawan stagnasi pada usia menengah yaitu umur 35 hingga 65 tahun. Tahap gong adalah tahapan kebijaksanaan yaotu tentang integritas ego versus putus asa, dimana pada usia senior ini dari 65 tahun keatas, individu akan dipenuhi dengan banyak pertanyaan tentang kehidupannya.

Pada usia anak SMP, pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang adalah kalo tidak keliru 'siapakah saya dan kemana saya akan menuju?'. Banyak konflik dan krisis psikososial diusia ini. Kesetiaan menjadi basis egonya. Pemaknaan akan ideologi menjadi pencariannya yang tidak selesai-selesai didukung dengan energi dan perubahan fisiknya yang juga menjadikannya hambatan sekaligus dorongan untuk melakukan banyak hal. Pencarian identitas diri terutama eksistensinya yang dibangun dari anak-anak dengan pengidolaan kadang akan menemukan atau membentur tembok yang sangat keras.

Anak SMP dan SMA selain menghadapi cobaan dan tantangan keras dalam sekolahnya dimana harus bertempur untuk menyiapkan amsa depan dengan ujian-ujian dan kurikulum yang sangat berat, harus menghadapi juga krisis dari merasa sebagai anak mama atau anak-anak yang selalu tersedia keperluannya dengan jangkauan kemandirian di masa depan. Masa kritis ini perlu mendapatkan perhatian yang istimewa agar bisa mengantarkan kesuksesan di masa depan, meski dengan kecerdasan naluriahnya setiap manusia pasti bisa melampaunya, namun perbedaan antar individu tentunya juga tidak bisa dibiarkan begitu saja pada usia SMP ataupun SMA.

Kebingungan-kebingungan peran pada usia anak SMP dan SMA serta kekerasan yang sering dipertotonkan di televisi ataupun media-media yang lain, apalagi hal-hal tak senonoh akan memicu semangat eksplorasinya yang sangat tidak terbatas. Meski begitu budaya pengekangan ataupun penjinakan tentusaja tidak bisa diberlakukan begitu sahaja, melainkan dengan sikap bijak untuk mengajak berfikir dan merasakan dengan memberinya kesempatan untuk memiliki pengalaman-pengalaman yang akan tertanam dalam benak sanubarinya, meski masih dibangun dalam Standar Nasional Pendidikan.