Terngiang ketika pemilu pertama pasca reformasi pada tahun 1999, ketika saat itu pada saat penghitungan suara yang sangat heboh, karena ketika diumumkan hasil untuk suara partai satu persatu perkartu suara, ketika pemilih memilih partai G maka akan terdengar suara umpatan dan huuu... yang panjang, tidak seperti ketika untuk dua partai yang lain yang diberi aplause oleh para penonton. Dan kejadian itu tidak hanya di kampung saya saja namun dimana-mana. Rakyat bersuka ketika mengetahui bahwa salah satu kehancuran bangsa ini adalah dari birokrat partai tersebut, namun yah... hanya sampai di situ saja, setelah itu apalah kekuatan para rakyat kecil itu.
Meskipun dibekali dengan kecerdasan berbangsa dan nasionalisme yang tebal, merdeka berpikir namun tanpa memiliki akses kepada kekuasaan, apalah arti mereka, mereka tak memiliki arti apapun, tak punya kekuatan apapun apalagi untuk menelorkan kebijakan, mereka hanyalah sampah, meskipun handal dalam bermasyarkat mereka tak memiliki apapun untuk menyetir arah dan kebijakan, mereka bukan penguasa, bukan birokrat, entah apa gonggongan mereka para birokrat tetap saja berlalu dan buang kotoran dimana-mana.
Berapa banyak teman sekolah yang menjadi korban keganasan kampanye pada orde baru, mereka berusaha dengan segenap kepahamannya tentang demokrasi. Mencoba turun ke jalan namun dengan persiapan ala sipil yang selalu saja kalah dengan moncong senjata atau konspirasi kecelakaan jalanan. Huh.. betapa saat itu sudah terhapus dan dilupakan, bahkan sejarah tak akan pernah mencatat hal-hal seperti itu. Hegemoni sejarah baik di sekolah maupun di akademisi tingkat advance tidak pernah membumi dan mencatat hal-hal detail untuk menjadi sejarah yang baik dan ideal, ya sejarah hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur anjing yang sedang ngantuk...
Demokrasi yang menciptakan para aristokrat baru, akan berakhir sama dengan kolonialisme yang berakhir dengan kekerasan juga. Mereka tidak pernah membaca sejarah dengan baik dan kritis. Anak presiden meniti karir politik, anak legislatif meniti karir sebagaimana bapaknya, oh... memang gen politikus mungkinkah diturunkan juga... hahaha... dengan lebih enak tentunya tidak memulai dari nol kecil..., parah memang perikehidupan politik saat ini.
Mereka lupa bahwa ikatan atas nama kepentingan kekuasaan, uang dan duniawi tidak akan pernah langgeng dan sentosa. Mereka lupa ada golongan putih yang lebih mengutamakan kecerdasan berbangsa, kesejahteraan bersama. Golongan putih yang selalu istikomah siapapun pemimpinnya, tak peduli mau dibawa kemana negeri ini, dengan baju hijaunya mereka mencintai negeri ini lebih dari apapun. Merekalah para penjaga bangsa. Hanyalah kejelian KH. Hasyim Asya'ri yang memahaminya dan mau bersedia menemaninya.
Bukan pan arabisme apalagi keinginan menjadi penguasa di negeri sendiri, mereka hijau sebagaimana padang rumput nusantara, mereka putih seputih kapas dalam bertuhan, sedalam lautan dalam menyimpan siksa yang diberikan negeri ini, cantik secantik gairah tradisi nan seksi. Mereka tidak akan menjadi korban globalisasi, karena dengan berdagang di depan rumahpun bisa untuk menghidupi keluarga. Mereka sederhana sebagaimana tuhan itu sendiri, tidak perlu mobil mewah, gedung pencakar langit, hp paling canggih, ya mereka putih dalam kehijauannya, tidak perlu memakan buah demokrasi maupun liberalisasi pendidikan, karena mereka adalah sasaran, target sekaligus korbannya... begitu putih dalam kehijauan yang selalu segar dan seksi untuk diincar dan diperkosa atas nama demokrasi, liberalisme, kapitalisme maupun sosialisme itu sendiri...
Komentar
ciwir
Rab, 08/04/2009 - 17:44
Permalink
sepakat......... GOLPUT
manusiahero
Rab, 08/04/2009 - 17:46
Permalink
GOlput lagi diri ku...
luxsMAn
Rab, 08/04/2009 - 17:48
Permalink
Aq baru intok C4, dadine ora
ami
Rab, 08/04/2009 - 17:50
Permalink
sik sik ngimpi opo iki yo??
meylya
Rab, 08/04/2009 - 17:51
Permalink
bait terakhir kok jadi puitis
ami
Rab, 08/04/2009 - 17:53
Permalink
wah kalah cepeeet. setuju
xitalho
Rab, 08/04/2009 - 18:14
Permalink
Aku yo wes etuk Undangan...
novi
Rab, 08/04/2009 - 18:20
Permalink
aku punya prinsip. gak mau
Itik Bali
Rab, 08/04/2009 - 19:14
Permalink
Aku gak milih mas, Tapi aku
endar
Rab, 08/04/2009 - 20:38
Permalink
jarene aku wis entuk kartu
Halaman
Kirim komentar