petani

Produktivitas bukan efektivitas

Tarif dasar listrik akan dinaikan, entah berapa persen itu tidak penting. Karena semua masyarakat sudah memerlukan listrik lebih dari apa yang bisa di berikan oleh perusahaan listrik negara. Tidak hanya untuk hal-hal yang bersifat produktif namun juga untuk penerangan dan kebutuhan sehari-hari untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga dan lain sebagainya. Dan yang jelas itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Entah TDL, tarif dasar listrik itu mau dinaikkan berapapun masyarakat akan selamat, terutama yang memiliki produktivitas dan sangat tergantung dengan adanya power atau listrik. Hanya artinya sesudah tarif dasar listrik dinaikkan, bukan tidak mungkin harga-harga akan melambung juga semampunya, dan setinggi-tingginya.

sadumuk bathuk sanyari bumi

Negeri Begajul semakin saja terpuruk, negeri yang pernah berjejuluk gemah ripah loh jinawi tersebut, semakin saja menangis sedih, sedih dan seterusnya selalu saja sedih. Bukan lantaran salah pilih, namun memang semuanya sudah dikondisikan, diarahkan dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuatu yang sangat penting dapat digantikan dengan lembaran-lembaran rupiah, yang meskipun tidak bisa untuk menggauli kehidupan namun untuk menuju kegelapan yang semakin saja pintu gerbangnya terbuka dengan hingar bingar kekerasan, bencana, penat dan sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami. Bahkan sangat sulit untuk memahami 'sadumuk bathuk sanyari bumi, ditohi pecahing dada luntaking ludira tekaning pati' secara diplomatis, bukan dengan perang.

Negeri Begajul yang dahulunya sangat berdaulat seakan dipermainkan dengan banyak hal, dimana harus mematuhi peraturan-peraturan internasional yang bukan tidak mungkin secara jangka panjang akan menisbikan amanat penderitaan rakyat, sebagai misal pelarangan merokok yang sangat tidak masuk akal, berapa juta rakyat yang harus gigit jari karena perang dagang tersebut, yang pada akhirnya sangat bisa ditebak bahwa tembakau akan di monopoli oleh pihak asing, tentu dengan jurus dan rahasia tertentu, karena sebegitu banyaknya perokok masa lalu toh juga berumur panjang dan tidak mengalami masalah dengan paru-parunya, bukan saja karena udara yang bersih karena polusi namun tentunya akan menciptakan pertanyaan baru bagi yang bisa melihat dengan netral. Musim dan alam yang memang sudah sangat sulit diprediksi toh belum dapat menggugah hati para pemimpin yang entah rasa kenegaraannya. Karena lebih kepincut dengan pendidikan asing atau apapun yang berbau bule dan kulit putih, seakan sudah dibutakan hatinya sendiri tentang kelokalannya sendiri, mereka menuju go internasional, namun lupa... internasional itu apa.

calon bupati - petani sleman di jogloabang sebuah sharing

Bukan kebetulan saja hajatan ini ketika Jogloabang, Hippos dan HKTI memfasilitasi diskusi antara petani dengan 7 putra terbaik Sleman peserta Pilkada Sleman 2010, hadir 6 orang karena wakil bupati incumben sedang rapat, terbaik karena mungkin berani mencalonkan diri dalam sebuah even kontes lima tahunan Pilkada, dan misi sebenarnya adalah HKTI mencoba mencari masukan dari orang-orang pintar dan berani untuk memimpin Sleman. Hari ini berperan dengan total adalah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Sleman yang dapat mengundang para kontestan tersebut dan menanggapinya dengan diskusi yang menarik dan topik yang sederhana yaitu "Mengapa sejak jaman penjajahan dahulu petani di Indonesia selalu saja miskin, bahkan hingga sampai saat ini?". "Bagaimana petani bisa seolah-olah menjadi buruh, dan mengapa hasilnya tidak banyak?". "Yakinkah program pemerintah efektif?". Lebih kurang 300an petani, peternak dan puluhan wartawan yang bisa hadir karena memang sulitnya mengumpulkan para petani yang selalu saja serius dengan lahan, tanaman, dan lain sebagainya yang selalu masih saja terasa mencekik. Dan dimasa-masa penggerakan suara dan massa seperti ini memang petani adalah sasaran empuk untuk daya dukung mendukung, oleh itulah mencoba untuk mencari seorang pemimpin yang waras haruslah segenap elemen mau terlibat dan melibatkan diri untuk membela petani maupun kemiskinan.

Kebanyakan para kontestan pilkada Sleman 2010 tersebut menjawab dengan pertanyaan kembali seperti memanfaatkan lahan maupun kembali ke jati diri perwilayah, berusaha membuat database dan perbaikan sistem, mencoba untuk mengubah pola pikir dan sebagainya yang tentunya masih sulit dicerna olah seorang petani miskin seperti saya. Bahwa Jati diri Sleman adalah air, dengan adanya selokan Mataram, dan salak jadi seorang Bugiakso tersebut lebih mendorong pada jati diri atau sumberdaya tani asli dengan dukungan regulasi dari pemerintah tentang pertanian. Jadi malah HKTI nantinya harus bisa mendorong jati diri pertanian untuk bisa dilaksanakan oleh pemerintah. Program-program harus diarahkan untuk disesuaikan dengan jatidiri dan skala prioritas.

Berlangganan RSS - petani