Apakah bisa dengan mudah mengukur keimanan seseorang ketika sudah tidak bisa lagi mendengar atau menghargai isyarah dari yang maha kuasa kepada mahluknya yang tidak lain adalah utusan juga, untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, minimalnya. Tidak harus menjadi nabi untuk bisa berkomunikasi dengan sang pencipta. Setiap mahluk memiliki hak yang sama untuk bisa merasakan dan berkomunikasi dengan sang khalik. Bisa melalui mimpi atau bentuk lain yang tentu sangat spesial agar bisa tertanam di memori. Tidak perlu bernama wahyu, firman, atau apapun bentuk komunikasi antara yang dicipta dengan pencipta. Adalah sangat tolol untuk menisbikan hal tentang komunikasi dengan yang diatas, bahkan tidak harus berguru ke kyai untuk dapat menemukan pencerahan bahwa manusia itu diciptakan untuk kemudian mengisi hidup dengan hal yang bermakna, mencari penciptanya untuk kemudian mati sebagai akhir perjalanan kehidupan duniawi.