paradigma | the Suryaden

paradigma

selamatan bumi, maukah anda?

Kehidupan dunia memang tidak ada yang abadi, semua akan datang silih berganti. Percayakah bahwa kehidupan yang tidak abadi di dunia akan selalu terbatas, dibatasi dengan ide-ide, terangkum dalam semesta ide yang luas namun terpilah-pilah dengan kategori dan kotak yang kadang saling menistakan satu sama lain. Bukankah manusia dalam kemanusiaannya sendiri mencoba untuk selalu terbebas dari semua akar dan sekat untuk membebaskan diri dari kungkungan, meski kungkungan tersebut kadang adalah sebuah pesta, pesta yang melenakan, hingga tidak paham berapa harga dan biaya terbuang sia-sia. Apalagi pesta yang digelar sedemikian rupa buruknya hingga tidak ada hasil yang mencerahkan bagi pengikutnya selain rasa nikmat atas onani kepuasan menjadi sederajat bersama para selebritis. Selebritis dan priyayi yang dimanapun akan sama tingkah polah dan sajen yang diperlukan untuk mendatangkan kenikmatan sesaat dan semu belaka, setelah itu habis dan hilang tanpa meninggalkan jejak dan sumbangsih yang berarti bagi perikehidupan kemanusiaan selain wacana dan hingar bingar kepuasaan dari persepsi diri. Tidak lebih.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi haruskah ada?

Sudah lebih dari satu dasa warsa negeri begajul memasuki fase reformasi, sebuah reformasi deadlock, jadi sampai kapan masa-masa transisional hukum ini berlangsung, meski saat ini sudah ada Mahkamah Konsitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan komisi-komisi lainnya, yang tidak serta merta membuat masyarakat luas paham apakah roadmap atau sampai dimanakah kerja-kerja mereka akan dianggap selesai, atau jangan-jangan nantinya malah menjadi semacam lembaga karier yang harus selalu ada hingga masa transisi tidak berakhir sebagaimana yang terjadi disudut tetangga negeri begajul, masa darurat perang sejak pemberantasan sebuah partai yang dianggap berkhianat karena membunuh tujuh jenderal di markas tentara sendiri hingga saat ini, entah sudah selesai atau belum.

rimba hingar bingar kemerdekaan

Keputusan untuk memerdekakan diri adalah sebuah keputusan cerdas dalam memanfaatkan waktu, untuk kemudian dikelola dengan visi kebangsaan yang utuh, tidak tercerai-berai menjadi parsial-parsial yang saling menjegal. Kebangsaan dan keabu-abuan pada puncak-puncak kekuasaan memiliki telor akan ketidakjelasan siapa pemilik ataupun owner dari sebuah konstituen yang maha luas, dan maha memiliki jebakan-jebakan akan hitam dan putihnya catatan-catatan yang dibuat. Bukan sulap bukan sihir ketika segala sesuatunya bisa menjadi musuh saat ada sebuah kepentingan mendadak demi sebuah nama baik dan kelanggengan kekuasaan, jangan harap ada yang akan mengasihani ketika semua alat dan perkakas atas nama dalam tanpa petik kenegaraan sudah tidak berpihak, apapun akan menjadi belati dan pedang yang siap membunuh.

absurditas ladang peperangan

Ibukota di negeri begajul memang pusat segalanya, dari semua kerapuhan moral, politik hingga ajang peperangan dan pertarungan. Pertarungan untuk mencari sesuap nasi hingga pertarungan untuk meraup sebongkah intan permata, bahkan peperangan dalam mengantongi berton-ton uang yang berasal dari penjualan tertentu dan hasil tambang daerah jauh disana. Tempat itu memang sudah memiliki beban yang berlebihan, hingga tidak pernah terasa lagi beban-benan kehidupan yang menjerat kawulo alit karena semua yang hidup disana sibuk dengan beban dan komoditas yang menjanjikan kepulangan rupiah ke dalam rekeningnya.

rejim orde wacana citra diri

Banyak bijak bestari yang mengatakan bahwa negeri begajul baru akan mendapatkan pemimpin yang ideal serta dapat memerintah dengan baik membawa rakyatnya menuju kesejahteraan yang benar-benar sejahtera adanya sekitar 10 kali pemilihan presiden lagi. Lama memang meskipun saat ini juga sebenarnya semua orang berhak mengatakan siapa pemimpin terbaiknya. Semua memang memiliki hak yang sama baik untuk memilih maupun untuk tidak memilih, tak ada keharusan dan kewajiban untuk kesusu atau berimajinasi tentang siapa pimpinan yang mumpuni atau barangkali semuanya yang baik dan ideal sudah terlalu jauh lepas, copot dari nurani hati kita yang paling dalam, atau dengan sengaja kita pernah menghapusnya sendiri, dengan ideal dan topografi otak yang sudah demikian absurdnya menghadapi kenyataan, bahkan yang sudah dijanjikan sekalipun.