neoliberalisme

Persetan Neoliberalisme

Pembunuhan karakter adalah hal terkeji untuk mengalahkan saingan dalam berkontes atau berkompetisi, namun adalah juga cara termudah karena budaya lisan yang masih berjalan dan jamak dipakai disini. Kadang orang hanya dengan "pasal jarene"(kabar angin, isyu, gosip, kabar manuk eh burung), sudah bisa diyakinkan dan berani bekoar-koar ke tetangga ataupun teman-temannya tentang suatu kebenaran tentang si fulan. Begitulah jamaknya, mungkinkah ini adalah peninggalan jaman penjajahan, peninggalan jaman kegelapan, peninggalan jaman kerajaan ataukah peninggalan komunisme, atau pula peninggalan sistem pendidikan dan sistem penakut-nakutan pada jaman orde baru. Entah juga karena asupan nutrisi seadanya yang mengerak di otak-otak para pembaca koran atau radio atau penonton televisi ataukah karena pelajaran metodologi penelitian yang hanya mengerak menjadi pemutih gigi yang kemudian menjadi kuning dan menjadi ompong.

Ekonomi Kerakyatan

Menjadi orang miskin adalah sebuah kesalahan dan dosa besar, tidak ada tuntunan agama apapun yang mengajak untuk miskin, karena jelas tidak bisa bersedekah, menunaikan ibadah dengan khusyuk, dan lain sebagainya. Mungkin itu benar dan memberikan semangat untuk berlomba-lomba menjadi kaya melalui bermacam usaha yang sebisanya dilakukan. Namun ternyata menjadi kaya juga sebuah persoalan besar untuk dapat dicapai karena maraknya persaingan usaha hingga jegal-menjegal dalam peraturan tata kota maupun menjadi seseorang yang bisa mengakses perbankan. Sementara untuk bisa mengakses bank haruslah memiliki barang yang bisa dijaminkan, dengan prediksi harga jual yang semau bank, sekaligus character assasination karena jelata, melarat, miskin sehingga tidak pantas pinjam ke bank.

Berlangganan RSS - neoliberalisme