komunisme

sadumuk bathuk sanyari bumi

Negeri Begajul semakin saja terpuruk, negeri yang pernah berjejuluk gemah ripah loh jinawi tersebut, semakin saja menangis sedih, sedih dan seterusnya selalu saja sedih. Bukan lantaran salah pilih, namun memang semuanya sudah dikondisikan, diarahkan dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuatu yang sangat penting dapat digantikan dengan lembaran-lembaran rupiah, yang meskipun tidak bisa untuk menggauli kehidupan namun untuk menuju kegelapan yang semakin saja pintu gerbangnya terbuka dengan hingar bingar kekerasan, bencana, penat dan sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami. Bahkan sangat sulit untuk memahami 'sadumuk bathuk sanyari bumi, ditohi pecahing dada luntaking ludira tekaning pati' secara diplomatis, bukan dengan perang.

Negeri Begajul yang dahulunya sangat berdaulat seakan dipermainkan dengan banyak hal, dimana harus mematuhi peraturan-peraturan internasional yang bukan tidak mungkin secara jangka panjang akan menisbikan amanat penderitaan rakyat, sebagai misal pelarangan merokok yang sangat tidak masuk akal, berapa juta rakyat yang harus gigit jari karena perang dagang tersebut, yang pada akhirnya sangat bisa ditebak bahwa tembakau akan di monopoli oleh pihak asing, tentu dengan jurus dan rahasia tertentu, karena sebegitu banyaknya perokok masa lalu toh juga berumur panjang dan tidak mengalami masalah dengan paru-parunya, bukan saja karena udara yang bersih karena polusi namun tentunya akan menciptakan pertanyaan baru bagi yang bisa melihat dengan netral. Musim dan alam yang memang sudah sangat sulit diprediksi toh belum dapat menggugah hati para pemimpin yang entah rasa kenegaraannya. Karena lebih kepincut dengan pendidikan asing atau apapun yang berbau bule dan kulit putih, seakan sudah dibutakan hatinya sendiri tentang kelokalannya sendiri, mereka menuju go internasional, namun lupa... internasional itu apa.

menunggu anarkhi

“Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara --pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak,
mengeksploitasi dan menghancurkan mereka”.
Mikhail Bakunin, saat kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868).

Entah apa jadinya tanpa negara, tanpa komunisme dan tanpa kapitalisme, mungkin indah, mungkin sepi, mungkin pating blasur, atau entahlah, belum pernah merasakan. Pemikiran indah seperti ini memang hanya untuk kalangan tertentu atau manusia tertentu dengan level kesadaran tertentu pula, tidak perlu diatur, tidak perlu sanksi, tidak perlu polisi, tidak perlu hukum, karena semuanya sudah tersistem dalam otaknya dan lingkungan yang kondusif, tentunya damai, tanpa perang, tanpa ada saling ejek, maupun pembenaran diri diri dan menganggap orang lain sesat.

projek venus

Dunia makin tua, makin penuh sesak, penuh dengan manusia, kepentingan dan ragam lainnya yang mengarah pada kesejahteraan. Ketika dahulu bisa dilakukan cukup dengan menyedot kemanusiaan sesama kemanusiaan, meski sampai sekarang pun masih seperti itu, baik dalamhal positif yang bernama kerjasama duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ketika semua yang serba postif mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang lebih, maka terperaslah otak untuk mencari jalan lain. Saat hasil bumi dan cukup untuk menjajah dengan lokalitas yang tidak perlu luas masih cukup maka gerakan nasionalisme sudah cukup ampuh untuk menangkalnya. Namun ketika semuanya sudah menjadi 'stealth' atau siluman dengan warna yang bermacam-macam, maka makin sulitlah untuk membedakan, karena semuanya nampak sama, positif, menguntungkan dan demokratif.

Berlangganan RSS - komunisme