kerakyatan

membumikan politik

Hirarki selalu saja ada dimanapun, bahkan birokrasi seakan sebuah tembok maha kuat yang tidak dapat ditembus selain dengan perjuangan dan rasa sakit. Entah apa yang diusung demokrasi, selain hanya menjadi alat dan acuan, sekalipun sistem yang dikerubungi ribuan polisi, tentara ataupun jaksa. Terbukti bisul-bisul kerajaan kecil menempel selalu baik sebagai akibat, proses maupun aktualisasinya. Partai atau apapun namanya entah mengusung penghapusan kelas sosial atau istilah lainnya pun mencipta kelas-kelas sosial baru, baik yang komunis ataupun yang bukan. Sama saja mereka tidak membumikan politik.

Ekonomi mudik Kerakyatan

Tidak berapa lama lagi barisan mudik aristokrat maupun ekonomi kerakyatan tumpah ruah, akan terlihat berbondong-bondong manusia kereta roda dua, roda empat maupun roda besi memenuhi jalanan di sepanjang pulau. Mungkin peristiwa seperti ini berlangsung kurang dari setengah abad di negeri begajul, namun sudah di klaim sebagai pelaksanaan tradisi, religi atau budaya, untuk menutupi logat ekonomi yang semakin seksi serta bergelayutan kepentingan permodalan liberalis terbalut dalam kosmetika kerakyatan belaka plus bumbu-bumbu penyedap rasa lainnya agar rakyat jelata tidak mudah emosi dan mengamuk ketika mengetahui apa sejatinya di dalam nukleus peristiwa tahunan yang rasanya semakin mendarah daging saja, dalam pandangan positif memang sebagai pemerataan, atau minimalnya adalah sebuah tetes embun pagi hari bagi perekonomian lokal, untuk kemudian kering kerontang lagi sebelum sore hari.

rimba hingar bingar kemerdekaan

Keputusan untuk memerdekakan diri adalah sebuah keputusan cerdas dalam memanfaatkan waktu, untuk kemudian dikelola dengan visi kebangsaan yang utuh, tidak tercerai-berai menjadi parsial-parsial yang saling menjegal. Kebangsaan dan keabu-abuan pada puncak-puncak kekuasaan memiliki telor akan ketidakjelasan siapa pemilik ataupun owner dari sebuah konstituen yang maha luas, dan maha memiliki jebakan-jebakan akan hitam dan putihnya catatan-catatan yang dibuat. Bukan sulap bukan sihir ketika segala sesuatunya bisa menjadi musuh saat ada sebuah kepentingan mendadak demi sebuah nama baik dan kelanggengan kekuasaan, jangan harap ada yang akan mengasihani ketika semua alat dan perkakas atas nama dalam tanpa petik kenegaraan sudah tidak berpihak, apapun akan menjadi belati dan pedang yang siap membunuh.

Selamat jalan Paman Doblang

Bulan Agustus 2009 memiliki arti luar biasa bagi keluarga Bengkel Teater, setelah Mbah Surip kemudian menyusul mas Willy menghadap ke haribaan sang maha kuasa, semoda kedamaian selalu bersama keduanya. Mas Willy sangat mendalam artinya bagi kehidupan sastra di negeri begajul, terlebih ketika dahulu masih berakrab-akrab ria ketika jayanya kelompok Swami kemudian Kantata Takwa, masa-masa bohemian bersama teman dan sahabat yang tidak akan pernah terlupakan dan selalu menjadi bahagian sejarah kehidupan banyak kawula muda saat itu. Kekerasan dan ancaman pada masa orde baru tidak hanya seperti teroris yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari seperti sekarang namun teror yang resmi dilegalkan oleh otoritas maupun teror yang dikembangkan oleh otoritas dengan mencatut pemuda-pemudi kurang gawean yang lapar sehingga menjadi boneka tanpa surat resmi keberadaannya. Begitulah ancaman yang super keras selalu mengancam dan meneror para pegiat demokrasi yang selalu dan saling dukung dengan para seniman sekaligus sebaliknya dalam memperjuangkan kesaksian-kesaksian akan kebejatan otoritas bersama antek-anteknya harus dikemas sedemikian rupa sehingga bersih tidak masuk kategori subversif.

Halaman

Berlangganan RSS - kerakyatan