kemanusiaan

menuju kemanusiaan yang adil dan beradab

Pernah terdengar dalam sebuah perhelatan pertemuan agak besar di sebuah kota antara Jogja dan Solo, beberapa tahun yang lalu, dimana seorang bapak korban tragedi 1965 mengungkapkan harta bendanya yang telah dirampas, sangat hafal dan dengan santun dia mengungkapkannya, sangat detil hingga harga kambing, sapi miliknya saat itu, piring, gelas, bahkan tikar. Meski terdengar tegar, namun rasa perih dan tanda tanya besar yang tak akan pernah terjawab dan terpuaskan, sebab tanpa ada alasan jelas mengapa perampasan harta benda itu bisa terjadi. Kemudian tiba-tiba dimasukkan dalam sebuah kerangka besar pengkhianatan negara yang sama sekali tak pernah terbersit dalam benak kewarasan bermasyarakat.

permen pahit

Tidak habis pikir memang dengan segala penyalahgunaan fasilitas dan berbagai kemudahan yang ada. Semisal wahana internet yang memang pada awalnya penuh dengan kebebasan, dengan segala niat baiknya tentunya. Kemudian dalam perkembangannya setiap orang bisa untuk mengakses dengan mudah untuk kemudian terjadilah hal-hal yang seprti biasa dilakukan di dunia nyata. Kadang perbedaan itu memang tipis dan lama kelamaan terasa menyatu dengan kehidupan sehari-hari, hingga status-status online kadang mencerminkan perasaan sehari-hari yang otomatis menjadi konten multimedia.

Bahwa "nila setitik akan merusak susu sebelahnyangga", mungkin masih menjadi senjata andalan untuk menggeneralisasikan sesuatu kesalahan dengan ditambahi kaitan-kaitan yang sangat filosofis dan kadang kepala orang biasa tak bisa memahaminya. Banyaknya bug-bug yang ada selalu saja bisa untuk permainan baik yang berniat baik maupun berniat jahat. Meski kejadian yang terjadi adalah kesalahan yang bisa saja terjadi di dunia nyata, namun satu kesalahan kecil itu bisa menjadi sebuah tools untuk memberangus ratusan aktifitas positif yang justru malah tidak pernah dianggap ada.

Berlangganan RSS - kemanusiaan