Pernah terdengar dalam sebuah perhelatan pertemuan agak besar di sebuah kota antara Jogja dan Solo, beberapa tahun yang lalu, dimana seorang bapak korban tragedi 1965 mengungkapkan harta bendanya yang telah dirampas, sangat hafal dan dengan santun dia mengungkapkannya, sangat detil hingga harga kambing, sapi miliknya saat itu, piring, gelas, bahkan tikar. Meski terdengar tegar, namun rasa perih dan tanda tanya besar yang tak akan pernah terjawab dan terpuaskan, sebab tanpa ada alasan jelas mengapa perampasan harta benda itu bisa terjadi. Kemudian tiba-tiba dimasukkan dalam sebuah kerangka besar pengkhianatan negara yang sama sekali tak pernah terbersit dalam benak kewarasan bermasyarakat.