Jakarta memang sudah dipegang dan berada pada ahlinya. Pertanyaannya adalah ahli dalam bidang apa, dan kemana arah keahlian itu, apakah demi masyarakat banyak, kebutuhan semua, memuaskan semua ataukah hanya ahli dalam memberikan plester, gali lobang tutup lobang atas nama proyek dan keuntungan semata. Saya sendiri hanyalah ahli dalam bukan bidang apapun. So mengapa, apakah tidak boleh untuk urun rembuk, meski hanya dari celoteh orang bodoh yang mestilah dianggap tidak tahu menahu apa-apa, terbukti dari kosongnya harta kekayaaan yang biasanya adalah tolok ukur keahlian dan kesuksesan seseorang. Okelah kalau begitu artinya memang apa yang dicurahkan disini sangat mungkin tidak bernilai dan berarti apa-apa, dan mungkin karena memang begitu pula sejatinya. Dan beginiliah uneg-unegnya.
DKI Jakarta sebagai Daerah Khusus Ibukota, bukanlah sebuah distrik kesombongan atau distrik kepongahan yang mengakomodasi segala bentuk kepongahan dan kesalahputusan yang selalu membuat tidak nyaman, entah sudah diseting begitu atau memang karena kesrimpet pikirnya sehingga malah membuat keputusan yang serba kurang pas dan menguntungkan kenyamanan para warga. Sebagai awam hanyalah bisa menyoroti apa yang kasat mata dan
dirasakan secara langsung saja, meski saya bukan warga Jakarta untungnya namun sebagai kota yang terpandang tentunya banyak keputusan yang dikopi paste oleh kota-kota followernya. Dan cilakanya sesuatu yang dianggap sebagai solusi adalah sebuah masalah baru dan menciptakan masalah lain yang lain dengan rentetannya. Tentu saja ini hanyalah omongan orang biasa tanpa pretensi apapun, tawaran diskusi seperti:
- Busway