kekerasan | the Suryaden

kekerasan

Menoleh ke Jangka Jayabaya dan Sastra

Betapa kompetisi selalu dijadikan alasan dan motivasi untuk saling mengalahkan dan menuju kesuksesan. Toleransi dan nilai-nilainya selalu tergerus dan menjadi tak berarti pada beberapa detik yang berbuntut panjang. Hingga event-event besar seperti sepakbola maupun yang lain yang menumbuhkan rasa fanatisme pada idolanya akan dengan mudah mengangkat simbol-simbol kekerasan demi branding maupun untuk menggelorakan semangat. Seperti para pahlawan patah satu tumbuh seribu, demikian pula dengan kekerasan, dia akan beranak pinak dan tidak akan pernah selesai hingga semuanya setara dan memahami maknanya, dalam konteks dan generasi tersebut, generasi di bawahnya akan mulai dari nol lagi untuk menemukan ketakutannya.

negeri atas angin

Dalam dunia wayang, negeri atas angin adalah negeri di mana pendeta Durna berasal. Pendeta Durna menyeberang ke pulau Jawa dengan sebelumnya kawin dengan seekor kuda yang akan mengatarkannya menyeberang lautan, anaknya bernama Aswatama. Negeri Atas angin mungkin nggak ada sangkut pautnya dengan Pendeta Durna sang Guru besar Pandawa dan Kurawa, baik dalam olah kanuragan maupun filsafat. Namun tentunya guru tidak hanya satu dan pada akhirnya meski dengan gurunya, Pandawa pun berperang melawan Kurawa, yang tunggal guru, dan Pendeta Durna pun mungkin karena posisinya harus mendukung Kurawa.

Republik Galau

Lebih membuat galau adalah menyatukan figur-figur cinta damai dan pluralis yang sepertinya tidak terwadahi lagi dalam satu ikatan sebagaimana yang dilakukan Abdurrahman Wahid ketika itu, mereka para pejuang kemanusiaan, anti kekerasan dan pluralisme saat ini seakan menjadi ronin yang galau tanpa tuan namun berhadapan dengan ronin-ronin Soeharto yang sudah menjelma menjadi ninja dengan persenjataan dan mental yang sudah pulih lagi. Akan menjadi apa lagi daripada menjadikan panik dan galaunya kekuasaan ditangan, hal paling mudah adalah mengadunya untuk mendapatkan benih-benih kesetiaan baru pada Putera Mahkota yang sedang disiapkan, meski masih nampak goblog dan super pekok. Wallahualam, semoga hanyalah kegalauan saya sahaja.

menjual surga

Apakah bisa dengan mudah mengukur keimanan seseorang ketika sudah tidak bisa lagi mendengar atau menghargai isyarah dari yang maha kuasa kepada mahluknya yang tidak lain adalah utusan juga, untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, minimalnya. Tidak harus menjadi nabi untuk bisa berkomunikasi dengan sang pencipta. Setiap mahluk memiliki hak yang sama untuk bisa merasakan dan berkomunikasi dengan sang khalik. Bisa melalui mimpi atau bentuk lain yang tentu sangat spesial agar bisa tertanam di memori. Tidak perlu bernama wahyu, firman, atau apapun bentuk komunikasi antara yang dicipta dengan pencipta. Adalah sangat tolol untuk menisbikan hal tentang komunikasi dengan yang diatas, bahkan tidak harus berguru ke kyai untuk dapat menemukan pencerahan bahwa manusia itu diciptakan untuk kemudian mengisi hidup dengan hal yang bermakna, mencari penciptanya untuk kemudian mati sebagai akhir perjalanan kehidupan duniawi.

masihkah harus membunuh untuk kesekian kalinya?

Peristiwa pembunuhan massal kepada simpatisan dan yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965 - 1966, mungkin sudah terlalu jauh untuk diingat, apalagi peristiwa pembunuhan massal pada saat setelah Syech Siti Jenar pada masa kerajaan Demak, ataupun pembunuhan massal lainnya yang selalu saja ada setiap abad di Nusantara ini, bahkan pembunuhan massal kepada para pengikut Pangeran Diponegoro pun sudah tidak ada lagi rekamannya dalam bentuk tulisan bahkan dongeng.

Mbah Priok

Hai orang-orang yang berdarah, sudah barang tentu kekerasan bukanlah jalan terakhir untuk mencapai kedamaian. Mengapa mencari kedamaian harus melalui jalan yang panas, berliku, penuh kelaparan dan berdarah-darah, plus pentungan serta helm juga tulisan anti huru-hara. Siapapun rasanya akan anti dengan kekerasan dan huru-hara, namun ketika mencari rasa damai, cinta dan kesejahteraan tak kunjung datang, yang tersisa hanyalah rasa emosi meninggi, mata nyalang tanpa ba bi bu siapa anda apalagi siaran di televisi yang selalu saja dipenuhi dengan bentrok kekerasan, bentrok karena merasa tidak adil, bentrok karena diganggu sarangnya maupun bentrok untuk hiburan setelah nonton sepak bola.

Katanya Syariah Islam

Namun setelah dipikir-pikir banyaknya jeratan dan peraturan tersebut bukan hanya untuk memerangi kejahatan namun dibalik itu ada usaha untuk mempertahankan kekuasaan, semisal dengan TAP MPRS No 25 tahun 1966, tentang pelarangan komunisme atau organisasi yang bahkan sampai sekarang mungkin masih bisa digunakan untuk menjerat seseorang. Atau perda-perda syariah yang bermunculan menambah rasa heran saja bukankah yang berhak memiliki perda itu hanyalah Nanggroe Aceh Darusalam saja, namun ternyatan Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, membuat celah untuk terjadinya hal tersebut, bisa dibayangkan animo untuk mengubah perilaku diri pribadi, dengan social enggineering yang mengarah pada partai atau agama tertentu