kebangsaan | the Suryaden

kebangsaan

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi haruskah ada?

Sudah lebih dari satu dasa warsa negeri begajul memasuki fase reformasi, sebuah reformasi deadlock, jadi sampai kapan masa-masa transisional hukum ini berlangsung, meski saat ini sudah ada Mahkamah Konsitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan komisi-komisi lainnya, yang tidak serta merta membuat masyarakat luas paham apakah roadmap atau sampai dimanakah kerja-kerja mereka akan dianggap selesai, atau jangan-jangan nantinya malah menjadi semacam lembaga karier yang harus selalu ada hingga masa transisi tidak berakhir sebagaimana yang terjadi disudut tetangga negeri begajul, masa darurat perang sejak pemberantasan sebuah partai yang dianggap berkhianat karena membunuh tujuh jenderal di markas tentara sendiri hingga saat ini, entah sudah selesai atau belum.

rimba hingar bingar kemerdekaan

Keputusan untuk memerdekakan diri adalah sebuah keputusan cerdas dalam memanfaatkan waktu, untuk kemudian dikelola dengan visi kebangsaan yang utuh, tidak tercerai-berai menjadi parsial-parsial yang saling menjegal. Kebangsaan dan keabu-abuan pada puncak-puncak kekuasaan memiliki telor akan ketidakjelasan siapa pemilik ataupun owner dari sebuah konstituen yang maha luas, dan maha memiliki jebakan-jebakan akan hitam dan putihnya catatan-catatan yang dibuat. Bukan sulap bukan sihir ketika segala sesuatunya bisa menjadi musuh saat ada sebuah kepentingan mendadak demi sebuah nama baik dan kelanggengan kekuasaan, jangan harap ada yang akan mengasihani ketika semua alat dan perkakas atas nama dalam tanpa petik kenegaraan sudah tidak berpihak, apapun akan menjadi belati dan pedang yang siap membunuh.

Selamat jalan Paman Doblang

Bulan Agustus 2009 memiliki arti luar biasa bagi keluarga Bengkel Teater, setelah Mbah Surip kemudian menyusul mas Willy menghadap ke haribaan sang maha kuasa, semoda kedamaian selalu bersama keduanya. Mas Willy sangat mendalam artinya bagi kehidupan sastra di negeri begajul, terlebih ketika dahulu masih berakrab-akrab ria ketika jayanya kelompok Swami kemudian Kantata Takwa, masa-masa bohemian bersama teman dan sahabat yang tidak akan pernah terlupakan dan selalu menjadi bahagian sejarah kehidupan banyak kawula muda saat itu. Kekerasan dan ancaman pada masa orde baru tidak hanya seperti teroris yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari seperti sekarang namun teror yang resmi dilegalkan oleh otoritas maupun teror yang dikembangkan oleh otoritas dengan mencatut pemuda-pemudi kurang gawean yang lapar sehingga menjadi boneka tanpa surat resmi keberadaannya. Begitulah ancaman yang super keras selalu mengancam dan meneror para pegiat demokrasi yang selalu dan saling dukung dengan para seniman sekaligus sebaliknya dalam memperjuangkan kesaksian-kesaksian akan kebejatan otoritas bersama antek-anteknya harus dikemas sedemikian rupa sehingga bersih tidak masuk kategori subversif.

Pernyataan Pers Halaqah Nasional Warga Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama pada awal didirikannya, dimaksudkan menjadi gerakan sosial keagamaan yang memberi perhatian terhadap masyarakat kecil dan kemandirian Pesantren. Khittah Nahdlatul Ulama yang kembali diteguhkan pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-27 di Situbondo, sebagai gerakan sosial keagamaan, akhir-akhir ini mengalami penumpulan dan pendangkalan gerak dan moral, sehingga peran Nahdlatul Ulama menjadi kurang berarti di level akar rumput masyarakat Nahdlatul Ulama sendiri dan di tengah kebangsaan Indonesia.

Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia

Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.