indonesia | the Suryaden

indonesia

membangun kejelian bernegara

Perhelatan panjang membangun rasa nasionalisme, membentuk jati diri bangsa, sebagai wujud nation building. Berlangsung waktu demi waktu, dengan model rekayasa tidak alamiah maupun yang alamiah natural seiring dengan gerak sanubari kebangsaan. Entah nantinya akan seperti apa pertarungan antara kepentingan satu dengan kepentingan lain selalu dengan pola yang berkembang dan berkelanjutan, belum ada permufakatan, bahkan hingga saat ini khianat demi khianat yang menjadikan bangsa ini semakin terpuruk menjadi warna dominan kekecewaan anak bangsa dalam melihat negaranya sendiri, salah siapa, mungkin kapan akan terungkap adalah titik berat para pejuang nasionalis demi bangsanya.

Republik Galau

Lebih membuat galau adalah menyatukan figur-figur cinta damai dan pluralis yang sepertinya tidak terwadahi lagi dalam satu ikatan sebagaimana yang dilakukan Abdurrahman Wahid ketika itu, mereka para pejuang kemanusiaan, anti kekerasan dan pluralisme saat ini seakan menjadi ronin yang galau tanpa tuan namun berhadapan dengan ronin-ronin Soeharto yang sudah menjelma menjadi ninja dengan persenjataan dan mental yang sudah pulih lagi. Akan menjadi apa lagi daripada menjadikan panik dan galaunya kekuasaan ditangan, hal paling mudah adalah mengadunya untuk mendapatkan benih-benih kesetiaan baru pada Putera Mahkota yang sedang disiapkan, meski masih nampak goblog dan super pekok. Wallahualam, semoga hanyalah kegalauan saya sahaja.

pancen utek asu

Jamane wis ora karuan, angel mratelakake siji lan sijine, campur bawur ora nggenah, njobone ijo njerone dadu, njobone abang njerone biru. Lucu akeh gerombolan sing ngakune anti Amerika, padahal ngerti dewe nek cara pemilihan umume nagari begajul kui fotokopi karo cara-cara demokrasine negoro Amerika. Luwih kenthir maneh akeh sing ora seneng karo neoliberalisme, lha kui aliran opo maneh, durung ana thesis poro wong pinter sing katon mbahas perkara kui.

boneka india

Kepala Biro Pusat Statistik, Rusman Heriawan menyatakan, ekspor Indonesia masih didominasi oleh sumber daya komoditas dan mineral. “Penjualan batu bara dan minyak kepala sawit masih memimpin pasar ekspor Indonesia,” katanya, Jumat (28/1). Namun produk lainnya yang sudah menjadi langganan ekspor sejak lama seperti tekstil dan karet tetap menjanjikan. “Barang-barang elektronik juga cukup baik nilai ekspornya,” tuturnya.

metamorfosa toyota kijang

Toyota Kijang, dengan transmisi 4 kecepatan hadir pertama kali pada 9 Juni 1977. Sangat minimalis dengan bentuk kotak yang melegenda sekarang terkenal dengan sebutan Kijang Buaya karena cara membuka kap mesin di depan yang bisa dibuka hingga ke samping sehingga mirip dengan mulut buaya diproduksi hingga tahun 1980. Kendaraan ini disebut juga kendaraan serbaguna karena bisa untuk mengangkut komoditi usaha maupun penumpang. Generasi Toyota Kijang dengan kode produksi KF10 sudah mampu menggelitik hati masyarakat karena mesinnya yang bandel, dan bodinya yang kuat. Mesin 1200 cc seperti Toyota Corolla pada saat itu dianggap mampu untuk menggerakkan dan menjadikannya sebagai bagian dari mobil terbaik pada jamannya.

Kijang Generasi kedua dengan kode produksi KF20, mengalami metamorfosa bentuk eksterior dan interiornya mengikuti perkembangan jaman, namun dengan wajah kotak yang sangat klasik justru sangat menarik sebenarnya, juga dikenal dengan nama Kijang Doyok, entah maksudnya apa saya kurang paham, pintu, gril dan kap mesin sudah berbeda dengan Kijang Buaya, juga ada penambahan kapasitas silinder menjadi 1300 cc. Pada generasi kedua ini untuk produksi tahun 1985 ada peningkatan dari yang semula menggunakan mesin 3K pada generasi pertama kemudian 4K pada awal generasi kedua, Kijang Doyok pada generasi termuda memakai mesin 5K yang juga memiliki kelebihan karena lebih irit.

in god we trust

Bapak pernah ngomong, "Barangkali ada diantara kita, yang diwaktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali, dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita. Saya tahu selama lima tahun ini pihak kepolisian telah berkali-kali mencegah dan menggagalkan aksi terorisme. Telah bisa menyita bahan peledak yang siap diledakkan, sudah bisa membongkar beberapa jaringan, meskipun lolos hari ini, terjadilah musibah yang sangat merobek keamanan dan nama baik bangsa dan negara kita." (Konferensi Pers Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pasca ledakan bom Kuningan, Jum’at 17 Juli 2009), tapi apakah hanya terorisme yang berada dibaliknya... wallahu allam....

bercinta dengan kesempitan

Pengalaman menumbuhkan kecerdasan berpikir, baik berikir baik maupun buruk seakan sudah tidak ada beda dan pemisahnya, sepanjang berguna bagi orang banyak. Disinilah kata orang banyak, kebanyakan dan massa akan menguasai, terlebih ada lagi jargon ' dot dot dot for all' sehingga semuanya ikut-ikutan, dan sepanjang untuk semua maka akan kelihatan bagus dan mulia. Benarkah demikian.. hmm hanya orang banyaklah juga yang menilai, dan mereka pun dalam rangkaian crowd, meski tak bisa berhujat dan berbuat lebih namun adalah sasaran dan tentunya pasar.

Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia

Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.