ekonomi kerakyatan

Produktivitas bukan efektivitas

Tarif dasar listrik akan dinaikan, entah berapa persen itu tidak penting. Karena semua masyarakat sudah memerlukan listrik lebih dari apa yang bisa di berikan oleh perusahaan listrik negara. Tidak hanya untuk hal-hal yang bersifat produktif namun juga untuk penerangan dan kebutuhan sehari-hari untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga dan lain sebagainya. Dan yang jelas itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Entah TDL, tarif dasar listrik itu mau dinaikkan berapapun masyarakat akan selamat, terutama yang memiliki produktivitas dan sangat tergantung dengan adanya power atau listrik. Hanya artinya sesudah tarif dasar listrik dinaikkan, bukan tidak mungkin harga-harga akan melambung juga semampunya, dan setinggi-tingginya.

membangun kota membangun negara

Apakah membangun kota itu juga sekaligus membangun negara? Bisa jadi iya bisa jadi pula tidak. Masih senewen dengan cara pembuatan batas wilayah di Negeri Begajul yang sangat kreatif dan nyeni, namun tidak inovatif karena tidak mengubah peninggalan Belanda atau masa lalu untuk menjadi sebuah negara yang memiliki kebebasan dan akses publik yang memudahkan. Batas kabupaten kota dan wilayah yang tidak lurus dan cenderung seperti batik adalah gambaran pekerjaan intelijen untuk mengadu domba masyarakat warga.

Epidemi bagi Kapitalis

Setahun sudah balada epidemi kerusakan kapitalis melanda dunia, krisis ekonomi global yang meski tidak terasa di negeri begajul -siapa bilang- menjadikan saya teringat ketika melewati tikungan-tikungan jalan gunung Kumitir antara Jember dan Banyuwangi, dimana saat itu adalah ketidaksopanan yang terbukti dengan jelas bahwa jika orang datang ke Banyuwangi selalu lewat Genteng, bukan lewat Lawang seperti jika akan bertandang ke kota Malang. Saat itu ada hal yang menarik di ketinggian tanah alas Kumitir dan rimbunnya hutan karena ada penunjuk sebuah stasiun kereta api, Stasiun Mrawan namanya yang tentusaja terletak lebih dari 500 meter diatas permukaan laut, dan tentunya melalui tanjakan maupun terowongan sebab hanya sekali sepertinya di jalan itu melewati perlintasan kereta api.

gempa keuangan

Gempa Jawa berkekuatan 7.3 SR maupun yang barusan terjadi dengan kekuatan 6.8 SR ternyata bukanlah sesuatu yang terlalu mengagetkan ketika upaya perbaikan dan rehabilitasinya masih kalah dengan bailout untuk gempa di titik episentrum baru di Bank Century sebesar Rp. 6,7 Trilyun. Kemungkinan memang itu yang bisa terbaca meski dengan kerugian fisik dan spiritual dari korban gempa yang tidak ternilai. Sebuah gempa yang aneh dan dahsyat bahkan Istana pun sampai terlihat bergoyang-goyang lampunya. Salut untuk pak Presiden meski dengan gempa yang segitu dahsyat masih mau stay di tempat kerja, tidak ketakutan dan tabah menghadapinya.

Ekonomi mudik Kerakyatan

Tidak berapa lama lagi barisan mudik aristokrat maupun ekonomi kerakyatan tumpah ruah, akan terlihat berbondong-bondong manusia kereta roda dua, roda empat maupun roda besi memenuhi jalanan di sepanjang pulau. Mungkin peristiwa seperti ini berlangsung kurang dari setengah abad di negeri begajul, namun sudah di klaim sebagai pelaksanaan tradisi, religi atau budaya, untuk menutupi logat ekonomi yang semakin seksi serta bergelayutan kepentingan permodalan liberalis terbalut dalam kosmetika kerakyatan belaka plus bumbu-bumbu penyedap rasa lainnya agar rakyat jelata tidak mudah emosi dan mengamuk ketika mengetahui apa sejatinya di dalam nukleus peristiwa tahunan yang rasanya semakin mendarah daging saja, dalam pandangan positif memang sebagai pemerataan, atau minimalnya adalah sebuah tetes embun pagi hari bagi perekonomian lokal, untuk kemudian kering kerontang lagi sebelum sore hari.

Halaman

Berlangganan RSS - ekonomi kerakyatan