demokrasi | the Suryaden

demokrasi

Desa Berdaya, atau menang suara

Desa Berdaya, seperti apakah desa berdaya itu? Super sulit dijawab, bahkan oleh warga desa sendiri, apalagi kepala desanya yang kadang punya agenda sendiri. Pemilik agenda luar desa lainnya jelas adalah Sekretaris Desa yang seorang Pegawai Negeri Sipil, jauh untuk dikatakan dia adalah pegawai desa. Lebih lagi orang-orang pokok di Desa cenderung dinamakan sebagai 'perangkat' atau 'device' atau 'alat'. Sungguh runyam memang Desa saat ini, maunya apa, keinginannya apa, ujung-ujungnya 'duitnya mana?'.

Feature Leaders

Feature Leaders, bukan Future Leaders yang menjadi program sebuah CSR dari perusahaan telko di Negeri Begajul. Future Leaders hanyalah menciptakan manusia-manusia siap pakai untuk bertempur dan berkompetisi dalam dunia global tanpa adanya holistik dengan penyiapan sebagai pemimpin bangsa atau seorang negarawan. Berbeda dengan Feature Leaders yang sangat dibutuhkan (istilah sendiri - boleh protes) Negeri Begajul, dimana diperlukan seorang pemimpin atau banyak orang yang memiliki ciri-ciri struktural yang benar dan bisa berpikir waras tentang negerinya.

boneka india

Kepala Biro Pusat Statistik, Rusman Heriawan menyatakan, ekspor Indonesia masih didominasi oleh sumber daya komoditas dan mineral. “Penjualan batu bara dan minyak kepala sawit masih memimpin pasar ekspor Indonesia,” katanya, Jumat (28/1). Namun produk lainnya yang sudah menjadi langganan ekspor sejak lama seperti tekstil dan karet tetap menjanjikan. “Barang-barang elektronik juga cukup baik nilai ekspornya,” tuturnya.

projek venus

Dunia makin tua, makin penuh sesak, penuh dengan manusia, kepentingan dan ragam lainnya yang mengarah pada kesejahteraan. Ketika dahulu bisa dilakukan cukup dengan menyedot kemanusiaan sesama kemanusiaan, meski sampai sekarang pun masih seperti itu, baik dalamhal positif yang bernama kerjasama duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ketika semua yang serba postif mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang lebih, maka terperaslah otak untuk mencari jalan lain. Saat hasil bumi dan cukup untuk menjajah dengan lokalitas yang tidak perlu luas masih cukup maka gerakan nasionalisme sudah cukup ampuh untuk menangkalnya. Namun ketika semuanya sudah menjadi 'stealth' atau siluman dengan warna yang bermacam-macam, maka makin sulitlah untuk membedakan, karena semuanya nampak sama, positif, menguntungkan dan demokratif.

Kekasih, binasalah kamu...

Negeri begajul diambang kebinasaan dalam arti sesungguhnya maupun dalam perspektif demokrasi, ambang tipis daripada sebuah keberlanjutan akan kemerdekaan yang sesungguhnya. Ketika pada hari itu jika saja tidak ada seorangpun yang berani dan lantang mengatakan untuk beroposisi kepada yang dipertuan agung. Semuanya akan menjadi kelu, tanpa ada riak-riak payung pembelaan kepada suara-suara kebenaran maupun amanat penderitaan rakyat.

Ekonomi Kerakyatan

Menjadi orang miskin adalah sebuah kesalahan dan dosa besar, tidak ada tuntunan agama apapun yang mengajak untuk miskin, karena jelas tidak bisa bersedekah, menunaikan ibadah dengan khusyuk, dan lain sebagainya. Mungkin itu benar dan memberikan semangat untuk berlomba-lomba menjadi kaya melalui bermacam usaha yang sebisanya dilakukan. Namun ternyata menjadi kaya juga sebuah persoalan besar untuk dapat dicapai karena maraknya persaingan usaha hingga jegal-menjegal dalam peraturan tata kota maupun menjadi seseorang yang bisa mengakses perbankan. Sementara untuk bisa mengakses bank haruslah memiliki barang yang bisa dijaminkan, dengan prediksi harga jual yang semau bank, sekaligus character assasination karena jelata, melarat, miskin sehingga tidak pantas pinjam ke bank.

Eksploitasi Demokrasi, mungkinkah?

Mungkinkah ada hubungannya antara kehidupan yang semakin kompleks ini dengan jumlah dan jenis Undang-undang yang diterbitkan ataukah memang jika bisa dibuat sulit mengapa harus dipermudah. Saat ini banyak ragam tentang perikehidupan ini yang diatur dengan undang-undang, mengapa harus diundangkan entahlah, seperti macam-macam jenis Rancangan undang-undang yang ada seperti Rancangan undang-undang Badan hukum Pendidikan yang menuai banyak protes, karena dianggap akan mempermahal dan melegalkan mahalnya biaya-biaya dalam persekolahan. Rancangan Undang-Undang Dosen, Guru, Notaris, dan lain sebagainya, malah bikin aneh dan menjadi tidak fokus sama sekali.