cahaya

cahaya langit

terpana dalam keterkaparan ini semakin menjadi ketika menyadari betapa para penghujat jaman sekarang yang semakin merasa pandai dan pintar, memang perbedaan letak hati yang semakin membedakan antara seorang apa adanya dengan seseorang yang penuh dedikasi dalam menghayati kemanusiaannya atas dasar bukti-bukti sains yang di cekokkan ke mulut dan pikiran sejak masih usia kecil ditambah dengan referensi produksi pengetahuan yang dibukukan dari hasil-hasil riset yang semakin meruncing dan terkotak-kotak adalah letak hati dimana bagi orang ala kadarnya adalah terletak di dada seiring dengan detak jantung namun bagi para manusia super cerdas terletak di kepala dimana seluruh kegiatan dan aktifitas berasal diakui dari kepala sebagai dasar proses dari masuknya rangsang hingga keluarnya reaksi yang diproses sedemikian rumit bagaikan ketika sebuah tata surya semesta tersendiri yang berbinar dan bertingkah sebagai sebuah kesatuan mandiri.

Meminang Kegelapan

Setelah pecahan-pecahan hati yang hancur tersebut di abadikan dalam sebuah monumen hancurnya sebuah cita menjadi sebuah keharuman meski masih terasa sakit dan sesak selalu mendesak didadanya, dengan tekun dirasakannya, meski butir-butir air mata kesakitannya selalu saja tanpa sebab yang disadarinya selalu membasahi pipinya hingga habis dan kering. Seakan sudah tak ada lagi yang dapat diteteskan, sudah tidak ada lagi rasa sakit atas desakan dari dalam dadanya, semuanya sudah terasa biasa sebagaimana tuntutan akan kehidupan yang mengharuskannya bersandiwara atas rasa sakit yang semestinya sangat parah tersebutpun dengan sangat terpaksa harus digantinya dengan gelak tawa agar tidak nampak kegalauan dan goyah jiwanya. Semuanya harus tampil wajar seakan tiada apa terjadi, bahwa meski hancur namun masih pula teman dan para sahabat tidak harus mengetahui apalagi membantunya dari kegelapan yang sudah bulat dipinang menjadi pasangan hidupnya yang abadi hingga akhir nafasnya yang semakin sengal karena sesal bahwa waktu tak mungkin akan diputar kembali.

menggauli kehancuran

Apalah kemudian yang dimiliki seorang insan, mahluk tuhan yang melemah, dalam kehendak perjalanan dan kesempurnaan tertingginya yang telah hancur. Adalah sebuah keinginan untuk menyempurnakan perjalanan yang ditempuh menjadi adreaniln yang mengalir di otaknya, otak yang rapuh tiada lagi melihat penerang dunia kehidupan maupun tujuan yang sedikit demi sedikit merapuh digerogoti usia serta pengharapan yang tiada kunjung menjadi material keinginan nyatanya. Meski dengan menangis sambil memohonpun tidak menjadi jaminan bahwa ketersiksaannya bisa berakhir, endapan demi endapan kekecewaan atas apa yang diyakininya benar telah menjadi bom yang setiap saat dapat membawanya ke kehancuran, hanya sisa-sisa ruang terhormat dihatinya dapat membantunya hancur dalam kehormatan, melanjutkan kehidupan dalam kehancuran ataupun membangun gedung kehancuran yang indah hingga dia bisa berdecak mengagumi akan kehancurannya sendiri.

Berlangganan RSS - cahaya