brain damage | the Suryaden

brain damage

devide et impera

Siapa yang tak kenal cara berpolitik 'devide et impera', meski sudah kuno barangkali metode politik ini bukanlah metode yang dibuat-buat atau sudah sewajarnya dan siapapun bisa melakukannya dalam konsepsi terkecilpun, tiada bedanya dengan cara-cara lempar batu sembunyi tangan atau hingga ada teriakan minta tolong dengan sesumbar 'becik ketitik olo ketoro', dan akhirnya manusia pun harus berusaha sendiri untuk membedakan 'mana pasir mana suwasa'. Begitu lengkap semua yang ada tinggal mau adopsi yang mana meski ada teori baru tentang konspirasi, atau 'rayuan susno duaji' juga banyak lagi semacam 'one shoot one kill' yang dilakukan oleh gayus, banyak pelakon panggung di sana yang memiliki kecerdasan tertentu tidak untuk disharingkan namun untuk mengelabui mengakali dan apapun namanya itu adalah pengatasnamaan atas upaya mempertahankan dan membangun kehidupan di ladang yang gersang karena ulah begajulan dan tidak terhormat sehingga memunculkan kreatifitas-kreatifitas negatif yang meskipun merugikan namun banyak juga penggemarnya

brain damage

"Like father, like son",... betapapun sudah lama dan berlalu sebuah orde kekuasaan yang ternyata belum tumbang namun hanya berganti kedok, masih juga menggunakan cara-cara lama yaitu pengalihan isu juga terutama membuat dirinya menjadi polisi yang baik dengan tebar pesona serta mengarahkan kesalahan ke yang lainnya, apalagi paling memuakkan adalah menjadikan orang lain menjadi korban pun dengan rekayasa konflik horizontal, masih cukup lumayan ketika sakit di obati dengan obat penenang dan aspirin namun ketika luka ditambal dengan luka tentunya sudah terjadi malpraktik disini. Kekejaman serta kekejian berbalut senyum peninggalan gurunya ternyata.

Masih tidak terlalu cerdas ternyata ketika menggunakan regulasi-regulasi papan atas dengan proyek yang nilainya tinggi dan menjadi buku saku atau pajangan bahwa sudah ada tuh peraturannya, nomer sekian pasal sekian ayat sekian tentang hal itu bahkan ada pasal-pasal penjelasannya karena memang tidak jelas. Meski mungkin yang ikut rapat pun setelah pulang, mampir ke salon kemudian lupa sendiri dan menjadi bahan untuk menarik perhatian masa pada kontes lima tahunan yang juga tidak kalah memuakkannya.