bencana | the Suryaden

bencana

merapi setelah itu....

Ngayogyokarto Hadiningrat, tentunya didirikan bukan untuk sebuah permainan kekuasaan tertentu saja. Perkembangan mengapa ada monarki, ada raja dan pemerintahan, bukanlah sebuah guyon dagelan untuk diperdebatkan dan didiskusikan, mungkin saja hal itu terjadi karena perjalanan yang sangat panjang melalui banyak liku. Bahkan mungkin pada zamannya dahulu sistem kemasyarakatan juga melalui proses demokrasi dalam memilih para pemimpinya secara naluriah hingga kemudian mentok dan mendapatkan sesuatu. Mengapa selalu dinamis tentunya tergantung pada siapa memanfaatkan siapa dan untuk apa, toh hirarki tetep ada dan selalu saja ada. Mereka yang berkuasa selalu saja dengan nalurinya akan mempertahankan dan menindas musuhnya. Hanya pemimpin sejati yang bisa memberikan apa yang dimilikinya untuk memenuhi tuntutannya sebagai pemimpin bukan dalam rangka melanggengkan kuasanya, karena kuasa hanyalah akibat dari percikan kebijaksanaan yang seharusnya, bagai sebuah mata air yang melegakan alam sekitarnya.

tanggap darurat dan peduli satwa

Gunung Merapi dalam pentasnya memberikan banyak pelajaran baru saat ini, dimana suara gemuruh keras, luncuran lava dan awan panas yang menerpa banyak saudara kita dan tempat tinggal ratusan orang yang selain dipenuhi debu juga bahkan ada yang hilang. Sangat lugas tanpa basa-basi bahkan mungkin selain dahulu ada second opinion dari Mbah Marijdan sang Samurai Jawi sebagai juru kunci Gunung Merapi, dan opini utama tentunya dari pemerintah dengan badan vulkanologinya. Namun sepeninggal beliau tentunya semua orang hanya terpaku pada badan vulkanologi dan instruksi dari badan-badan milik pemerintah yang memiliki otoritas dibidangnya.

Terlepas dari itu semua, ada pengalaman menarik yaitu berkenalan dengan sebuah organisasi penyelamat satwa yaitu pro fauna yang berusaha untuk membantu para peternak mengevakuasi ternaknya untuk bisa di pelihara dan diamankan di shelter-shelter sementara yang berada di kawasan aman. Bisa merasakan betapa hubungan antara pemilik sapi dengan sapinya, betapa menderitanya sapi dan binatang ternak lainnya karena musibah bencana. Karena bagaimanapun binatang ternak ternyata tidak memiliki insting dan kemampuan survival yang sama dengan binatang non ternak atau yang masih liar berada di hutan lereng gunung Merapi.

Profauna

modyar cocote

Bencana, apalagi bencana alam, sangat sulit dihindari, diantisipasi bahkan diprediksi sekalipun sampai modyar cocote. Kesiapan untuk menghadapinya pun satu sama lain berbeda apalagi penyikapannya. Sikap arif, peduli dan saling berbagi adalah beberapa sikap yang harus ditumbuhkan. Bagaimanapun masyarakat yang tertimpa bencana adalah korban yang harus didukung untuk bisa bangkit kembali, terlepas dari banyak latar belakang dan permasalahan yang pernah ada. Memberikan motivasi, dukungan moril serta tips-tips ringan tepat guna adalah sesuatu yang sangat positif, disamping dukungan moral untuk kembali bangkit keluar dari penderitaannya.

Banyak sekali para cerdik cendekia, aktivis dan pengamat lingkungan baik yang ahli ataupun karena pendidikan dibidangnya adalah sumberdaya yang sangat berharga, belum lagi komunitas-komunitas siaga bencana yang sudah di tumbuhkan dari bawah oleh para pegiat disaster management ditambah dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Kearifan-kearifan lokal memiliki cara dan metode untuk menentukan arah dan bangkit dari keterpurukan yang secara tidak langsung sudah terpancang dalam memori benak individual ketika belajar dari masyarakat dan lingkungan setempat, meski hal ini ada karena waktu bermukim yang sudah lama dan pada komunitas yang sudah establish selama beberapa waktu dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan bencana lokal.

Air tirta banyu suci perwita sari

Air kadang dipercaya sebagai sumber kehidupan, sudah menjadi sebuah syarat utama ketika akan mendirikan rumah atau pemukiman, air menjadi sebuah obyek yang vital, harus ada. Tidak bisa ditawar, keberadaan air dalam tubuh pun menjadi mayoritas hingga 80 persen tubuh ini terdiri dari air. Betapa tingginya derajad air dalam kehidupan manusia, dia mengalir dalam nadi sebagai darah, bahkan udara yang terhirup pun terolah untuk bersama dengan darah dalam degup jantung ke seluruh tubuh.