anarkhisme | the Suryaden

anarkhisme

Install atau Upgrade ke Ubuntu Studio 9.04 Jaunty Jackalope

Terinspirasi dari teman yang menginstall Ubuntu Studio 9.04 Jaunty Jackalope, berhasil namun tidak bisa menggunakan mobile broadband sebagai koneksi internetnya. Saya tidak percaya dan kemudian menginstal sendiri di desktop di rumah, dan ternyata memang begitulah hasilnya tidak ada alokasi untuk mobile broadband sehingga kalang kabut untuk update sementara tidak ada koneksi melalui kabel LAN atau modem biasa dial up yang sudah ketinggalan jaman itu, ada beberapa di rumah tapi sudah rusak dengan sendirinya karena memang tidak kepakai, dan menjadi tempat peraduan tikus dan laba-laba serta debu yang datang tiada tara. Itulah anarkhisme semprul yang juga saya praktekkan sehari-hari pada perlatan elektronik yang perkembangannya bikin sembelit ketika pagi hari.

siluman harus gentayangan

Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat merupakan salah satu demokrasi yang saya ingat dan saya dengar ketika masih sekolah dasar beberapa abad yang lalu. Diambil dan diadaptasi dari kata "demos" yang berarti rakyat dan cratein/cratos yang memiliki terjemahan pemerintahan (persis di http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi). Negeri begajul telah sukses mengadakan tugas demokrasi beserta pestanya sejak puluhan tahun yang lampau. Namun karena tidak adanya kejelasan dalam sebuah demokrasi bahkan dalam dunia pendidikan itu sendiri, sehingga masih banyak kecurangan dalam pelaksanaan perebutan lobang kenikmatan dalam bentuk kursi kekuasaan beserta semua yang mengikuti dibelakangnya. Sehingga banyak bentuk saling curang dan menghalalkan segala cara ini diakui sebagai sebuah kewajaran dan hanya beberapa kelompok atau pemerhati tertentu yang makin muak, namun masih menggembirakan juga peningkatan dalam paradigma bukan sekedar golput yang bagaimanapun tetap dianggap sebagai pengkhianat demokrasi, hanya karena peduli dan harapan yang lebih baik.

character assassination

Bukan rahasia ketika dengan mudahnya dahulu Ir. Soekarno dimasukkan ke tahanan karena terlibat G30S, kudeta untuk dirinya sendiri, atau Soeharto sendiri dengan KKNnya, banyak sekali jebakan dan pembunuhan karakter digunakan untuk menjebloskan seseorang ke penjara atau mengakhiri kariernya yang cemerlang. Gus Dur, Megawati, Habibie masing-masing juga telah mengalaminya, siapa yang melakukannya tentunya dengan bantuan kekuasaan dan invisible hand yang rapi dan halus sehingga semua orang bisa mengiyakan dan menyetujuinya. Sehingga banyak gejolak dapat ditekan meskipun dengan jargon-jargon pendukung untuk keamanan de el el.

Eksploitasi Demokrasi, mungkinkah?

Mungkinkah ada hubungannya antara kehidupan yang semakin kompleks ini dengan jumlah dan jenis Undang-undang yang diterbitkan ataukah memang jika bisa dibuat sulit mengapa harus dipermudah. Saat ini banyak ragam tentang perikehidupan ini yang diatur dengan undang-undang, mengapa harus diundangkan entahlah, seperti macam-macam jenis Rancangan undang-undang yang ada seperti Rancangan undang-undang Badan hukum Pendidikan yang menuai banyak protes, karena dianggap akan mempermahal dan melegalkan mahalnya biaya-biaya dalam persekolahan. Rancangan Undang-Undang Dosen, Guru, Notaris, dan lain sebagainya, malah bikin aneh dan menjadi tidak fokus sama sekali.

Negeri Begajul

Politikus negeri begajul itu memang sangat jenius, terutama seorang politikus yang pernah berkuasa dengan diawali sebuah masa sulit, dan dengan teganya membunuh dan membantai sekian juta jelata hingga politikus lawannya. Belum ada yang berhasil mengotak-atiknya meskipun sudah berganti rejim penguasa. Meskipun beliaunya sudah mangkat dan turun jabatan setelah didemo ribuan mahasiswa pada beberapa tahun yang lalu. Hebat dan cemerlang memang, mampu membius jutaan rakyat dan orang pintar di negeri penuh begajul itu. Namun memang nyawa bayarannya ketika berani mengatakan tidak kepada penguasa pada saat itu, bahkan yang menjadi alat negarapun bisa dengan leluasa untuk dar-der-dor seenak perut sendiri.

Bukan sekedar golput

Terngiang ketika pemilu pertama pasca reformasi pada tahun 1999, ketika saat itu pada saat penghitungan suara yang sangat heboh, karena ketika diumumkan hasil untuk suara partai satu persatu perkartu suara, ketika pemilih memilih partai G maka akan terdengar suara umpatan dan huuu... yang panjang, tidak seperti ketika untuk dua partai yang lain yang diberi aplause oleh para penonton. Dan kejadian itu tidak hanya di kampung saya saja namun dimana-mana. Rakyat bersuka ketika mengetahui bahwa salah satu kehancuran bangsa ini adalah dari birokrat partai tersebut, namun yah... hanya sampai di situ saja, setelah itu apalah kekuatan para rakyat kecil itu.

Mengapa tiada maaf

Mungkin keliru yang merasakan hal ini, menjadi seorang yang tolol dengan politik. Politik yang seharusnya adalah cara untuk mengambil keputusan, menjadi cara untuk mengambil kekuasaan. Menjadi sangat aneh ketika ada jutaan caleg yang ingin memiliki hak untuk pengambilan keputusan. Sebenarnya mereka itu menganggap apa sih ruang legislatif itu. Bukankah dengan ditelorkannya sebuah Undang-Undang tidak serta merta akan membawa perubahan yang diinginkan, lebih-lebih jika UU yang berpihak pada keadilan dan akses bagi rakyat.

Halaman