anarkhi | the Suryaden

anarkhi

Mbah Priok

Hai orang-orang yang berdarah, sudah barang tentu kekerasan bukanlah jalan terakhir untuk mencapai kedamaian. Mengapa mencari kedamaian harus melalui jalan yang panas, berliku, penuh kelaparan dan berdarah-darah, plus pentungan serta helm juga tulisan anti huru-hara. Siapapun rasanya akan anti dengan kekerasan dan huru-hara, namun ketika mencari rasa damai, cinta dan kesejahteraan tak kunjung datang, yang tersisa hanyalah rasa emosi meninggi, mata nyalang tanpa ba bi bu siapa anda apalagi siaran di televisi yang selalu saja dipenuhi dengan bentrok kekerasan, bentrok karena merasa tidak adil, bentrok karena diganggu sarangnya maupun bentrok untuk hiburan setelah nonton sepak bola.

pengalihan isu

Masihkah terdengar geliat Bank Siantury yang karenanya 6 trilyunan rupiah raib tak ada bekasnya hanya tinggal gemeretak dan geliat kampanye politik lagi dengan kontes eyel-eyelan tombo ati kemarahan rakyat saat dieksposenya rapat-rapat dan diskusi mengenai raibnya lakon 6 trilyun tersebut. Sebuah ajang kampanye dan branding nama gratis dan dibayar lagi, memang ajang kontes lintas budaya dan tehnologi tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik, dengan hasil yang juga hanya segitu tanpa pengaruh apapun pada kehidupan yang nyata apalagi memberikan obat mujarab ataupun shock terapi yang nyata di Negeri Begajul.

menunggu anarkhi

“Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara --pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak,
mengeksploitasi dan menghancurkan mereka”.
Mikhail Bakunin, saat kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868).

Entah apa jadinya tanpa negara, tanpa komunisme dan tanpa kapitalisme, mungkin indah, mungkin sepi, mungkin pating blasur, atau entahlah, belum pernah merasakan. Pemikiran indah seperti ini memang hanya untuk kalangan tertentu atau manusia tertentu dengan level kesadaran tertentu pula, tidak perlu diatur, tidak perlu sanksi, tidak perlu polisi, tidak perlu hukum, karena semuanya sudah tersistem dalam otaknya dan lingkungan yang kondusif, tentunya damai, tanpa perang, tanpa ada saling ejek, maupun pembenaran diri diri dan menganggap orang lain sesat.

Negeri Begajul

Politikus negeri begajul itu memang sangat jenius, terutama seorang politikus yang pernah berkuasa dengan diawali sebuah masa sulit, dan dengan teganya membunuh dan membantai sekian juta jelata hingga politikus lawannya. Belum ada yang berhasil mengotak-atiknya meskipun sudah berganti rejim penguasa. Meskipun beliaunya sudah mangkat dan turun jabatan setelah didemo ribuan mahasiswa pada beberapa tahun yang lalu. Hebat dan cemerlang memang, mampu membius jutaan rakyat dan orang pintar di negeri penuh begajul itu. Namun memang nyawa bayarannya ketika berani mengatakan tidak kepada penguasa pada saat itu, bahkan yang menjadi alat negarapun bisa dengan leluasa untuk dar-der-dor seenak perut sendiri.