alam

merapi setelah itu....

Ngayogyokarto Hadiningrat, tentunya didirikan bukan untuk sebuah permainan kekuasaan tertentu saja. Perkembangan mengapa ada monarki, ada raja dan pemerintahan, bukanlah sebuah guyon dagelan untuk diperdebatkan dan didiskusikan, mungkin saja hal itu terjadi karena perjalanan yang sangat panjang melalui banyak liku. Bahkan mungkin pada zamannya dahulu sistem kemasyarakatan juga melalui proses demokrasi dalam memilih para pemimpinya secara naluriah hingga kemudian mentok dan mendapatkan sesuatu. Mengapa selalu dinamis tentunya tergantung pada siapa memanfaatkan siapa dan untuk apa, toh hirarki tetep ada dan selalu saja ada. Mereka yang berkuasa selalu saja dengan nalurinya akan mempertahankan dan menindas musuhnya. Hanya pemimpin sejati yang bisa memberikan apa yang dimilikinya untuk memenuhi tuntutannya sebagai pemimpin bukan dalam rangka melanggengkan kuasanya, karena kuasa hanyalah akibat dari percikan kebijaksanaan yang seharusnya, bagai sebuah mata air yang melegakan alam sekitarnya.

sadumuk bathuk sanyari bumi

Negeri Begajul semakin saja terpuruk, negeri yang pernah berjejuluk gemah ripah loh jinawi tersebut, semakin saja menangis sedih, sedih dan seterusnya selalu saja sedih. Bukan lantaran salah pilih, namun memang semuanya sudah dikondisikan, diarahkan dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuatu yang sangat penting dapat digantikan dengan lembaran-lembaran rupiah, yang meskipun tidak bisa untuk menggauli kehidupan namun untuk menuju kegelapan yang semakin saja pintu gerbangnya terbuka dengan hingar bingar kekerasan, bencana, penat dan sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami. Bahkan sangat sulit untuk memahami 'sadumuk bathuk sanyari bumi, ditohi pecahing dada luntaking ludira tekaning pati' secara diplomatis, bukan dengan perang.

Negeri Begajul yang dahulunya sangat berdaulat seakan dipermainkan dengan banyak hal, dimana harus mematuhi peraturan-peraturan internasional yang bukan tidak mungkin secara jangka panjang akan menisbikan amanat penderitaan rakyat, sebagai misal pelarangan merokok yang sangat tidak masuk akal, berapa juta rakyat yang harus gigit jari karena perang dagang tersebut, yang pada akhirnya sangat bisa ditebak bahwa tembakau akan di monopoli oleh pihak asing, tentu dengan jurus dan rahasia tertentu, karena sebegitu banyaknya perokok masa lalu toh juga berumur panjang dan tidak mengalami masalah dengan paru-parunya, bukan saja karena udara yang bersih karena polusi namun tentunya akan menciptakan pertanyaan baru bagi yang bisa melihat dengan netral. Musim dan alam yang memang sudah sangat sulit diprediksi toh belum dapat menggugah hati para pemimpin yang entah rasa kenegaraannya. Karena lebih kepincut dengan pendidikan asing atau apapun yang berbau bule dan kulit putih, seakan sudah dibutakan hatinya sendiri tentang kelokalannya sendiri, mereka menuju go internasional, namun lupa... internasional itu apa.

projek venus

Dunia makin tua, makin penuh sesak, penuh dengan manusia, kepentingan dan ragam lainnya yang mengarah pada kesejahteraan. Ketika dahulu bisa dilakukan cukup dengan menyedot kemanusiaan sesama kemanusiaan, meski sampai sekarang pun masih seperti itu, baik dalamhal positif yang bernama kerjasama duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ketika semua yang serba postif mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang lebih, maka terperaslah otak untuk mencari jalan lain. Saat hasil bumi dan cukup untuk menjajah dengan lokalitas yang tidak perlu luas masih cukup maka gerakan nasionalisme sudah cukup ampuh untuk menangkalnya. Namun ketika semuanya sudah menjadi 'stealth' atau siluman dengan warna yang bermacam-macam, maka makin sulitlah untuk membedakan, karena semuanya nampak sama, positif, menguntungkan dan demokratif.

Duka untuk gempa Sumatera

Hingga malam ini, diberitakan 75 insan Indonesia meninggal dunia karena gempa bumi kemarin sore di Sumatera Barat. Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Menurut perkiraan media-media maupun petinggi di negeri ini sepertinya korban masih akan bertambah lagi, dan kerusakan hampir setara dengan Gempa Yogyakarta pada tahun 2006 silam. Gempa yang mengguncang Sumatera hingga terasa sampai Singapura dan Malaysia, menyisakan perih dan meluluh lantakkan kota Padang, hingga khabarnya Plaza Andalas pun rusak parah. Presiden SBY yang sedang berada di Amerika juga telah dilapori oleh bapak wakil presiden, serta merta juga mengadakan rapat untuk mengantisipasi keadaan selanjutnya.

selamatan bumi, maukah anda?

Kehidupan dunia memang tidak ada yang abadi, semua akan datang silih berganti. Percayakah bahwa kehidupan yang tidak abadi di dunia akan selalu terbatas, dibatasi dengan ide-ide, terangkum dalam semesta ide yang luas namun terpilah-pilah dengan kategori dan kotak yang kadang saling menistakan satu sama lain. Bukankah manusia dalam kemanusiaannya sendiri mencoba untuk selalu terbebas dari semua akar dan sekat untuk membebaskan diri dari kungkungan, meski kungkungan tersebut kadang adalah sebuah pesta, pesta yang melenakan, hingga tidak paham berapa harga dan biaya terbuang sia-sia. Apalagi pesta yang digelar sedemikian rupa buruknya hingga tidak ada hasil yang mencerahkan bagi pengikutnya selain rasa nikmat atas onani kepuasan menjadi sederajat bersama para selebritis. Selebritis dan priyayi yang dimanapun akan sama tingkah polah dan sajen yang diperlukan untuk mendatangkan kenikmatan sesaat dan semu belaka, setelah itu habis dan hilang tanpa meninggalkan jejak dan sumbangsih yang berarti bagi perikehidupan kemanusiaan selain wacana dan hingar bingar kepuasaan dari persepsi diri. Tidak lebih.

Halaman

Berlangganan RSS - alam