negeri begajul | the Suryaden

negeri begajul

Persetan Neoliberalisme

Pembunuhan karakter adalah hal terkeji untuk mengalahkan saingan dalam berkontes atau berkompetisi, namun adalah juga cara termudah karena budaya lisan yang masih berjalan dan jamak dipakai disini. Kadang orang hanya dengan "pasal jarene"(kabar angin, isyu, gosip, kabar manuk eh burung), sudah bisa diyakinkan dan berani bekoar-koar ke tetangga ataupun teman-temannya tentang suatu kebenaran tentang si fulan. Begitulah jamaknya, mungkinkah ini adalah peninggalan jaman penjajahan, peninggalan jaman kegelapan, peninggalan jaman kerajaan ataukah peninggalan komunisme, atau pula peninggalan sistem pendidikan dan sistem penakut-nakutan pada jaman orde baru. Entah juga karena asupan nutrisi seadanya yang mengerak di otak-otak para pembaca koran atau radio atau penonton televisi ataukah karena pelajaran metodologi penelitian yang hanya mengerak menjadi pemutih gigi yang kemudian menjadi kuning dan menjadi ompong.

siluman harus gentayangan

Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat merupakan salah satu demokrasi yang saya ingat dan saya dengar ketika masih sekolah dasar beberapa abad yang lalu. Diambil dan diadaptasi dari kata "demos" yang berarti rakyat dan cratein/cratos yang memiliki terjemahan pemerintahan (persis di http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi). Negeri begajul telah sukses mengadakan tugas demokrasi beserta pestanya sejak puluhan tahun yang lampau. Namun karena tidak adanya kejelasan dalam sebuah demokrasi bahkan dalam dunia pendidikan itu sendiri, sehingga masih banyak kecurangan dalam pelaksanaan perebutan lobang kenikmatan dalam bentuk kursi kekuasaan beserta semua yang mengikuti dibelakangnya. Sehingga banyak bentuk saling curang dan menghalalkan segala cara ini diakui sebagai sebuah kewajaran dan hanya beberapa kelompok atau pemerhati tertentu yang makin muak, namun masih menggembirakan juga peningkatan dalam paradigma bukan sekedar golput yang bagaimanapun tetap dianggap sebagai pengkhianat demokrasi, hanya karena peduli dan harapan yang lebih baik.

Merajut Akar-Akar Kebangsaan Indonesia

Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.

Ekonomi Kerakyatan

Menjadi orang miskin adalah sebuah kesalahan dan dosa besar, tidak ada tuntunan agama apapun yang mengajak untuk miskin, karena jelas tidak bisa bersedekah, menunaikan ibadah dengan khusyuk, dan lain sebagainya. Mungkin itu benar dan memberikan semangat untuk berlomba-lomba menjadi kaya melalui bermacam usaha yang sebisanya dilakukan. Namun ternyata menjadi kaya juga sebuah persoalan besar untuk dapat dicapai karena maraknya persaingan usaha hingga jegal-menjegal dalam peraturan tata kota maupun menjadi seseorang yang bisa mengakses perbankan. Sementara untuk bisa mengakses bank haruslah memiliki barang yang bisa dijaminkan, dengan prediksi harga jual yang semau bank, sekaligus character assasination karena jelata, melarat, miskin sehingga tidak pantas pinjam ke bank.

character assassination

Bukan rahasia ketika dengan mudahnya dahulu Ir. Soekarno dimasukkan ke tahanan karena terlibat G30S, kudeta untuk dirinya sendiri, atau Soeharto sendiri dengan KKNnya, banyak sekali jebakan dan pembunuhan karakter digunakan untuk menjebloskan seseorang ke penjara atau mengakhiri kariernya yang cemerlang. Gus Dur, Megawati, Habibie masing-masing juga telah mengalaminya, siapa yang melakukannya tentunya dengan bantuan kekuasaan dan invisible hand yang rapi dan halus sehingga semua orang bisa mengiyakan dan menyetujuinya. Sehingga banyak gejolak dapat ditekan meskipun dengan jargon-jargon pendukung untuk keamanan de el el.

nasib, mungkinkah...

Kecerdasan, ilmu pengetahuan, budi pekerti serta banyak hal positif yang bisa ditulis, entah ditulis di blog, maupun dalam sebuah buku dengan sampul tebal dan harga selangit, bukan untuk dimiliki sendiri karena memang bukan milik pribadi. Dalam sebuah ide tentunya didalamnya terdapat hal-hal lama ataupun unsur-unsur yang mendukung untuk terjadinya ide atau kreatifitas, bukan tidak mungkin jika hal itu sudah pernah ada dan terbersit pada masa lampau namun tidak terdokumentasi dengan baik dan rapi. Sehingga ada yang kemudian tersadar, tercerahkan untuk mengumpulkan secara sistematis menjadi sebuah paket yang makin lama berkembang dan bisa jadi berubah warna maupun wujudnya, menjadi sesuatu yang terasa baru dan mengagumkan.

Eksploitasi Demokrasi, mungkinkah?

Mungkinkah ada hubungannya antara kehidupan yang semakin kompleks ini dengan jumlah dan jenis Undang-undang yang diterbitkan ataukah memang jika bisa dibuat sulit mengapa harus dipermudah. Saat ini banyak ragam tentang perikehidupan ini yang diatur dengan undang-undang, mengapa harus diundangkan entahlah, seperti macam-macam jenis Rancangan undang-undang yang ada seperti Rancangan undang-undang Badan hukum Pendidikan yang menuai banyak protes, karena dianggap akan mempermahal dan melegalkan mahalnya biaya-biaya dalam persekolahan. Rancangan Undang-Undang Dosen, Guru, Notaris, dan lain sebagainya, malah bikin aneh dan menjadi tidak fokus sama sekali.

lobang kenikmatan

Benarkah menduduki kursi penguasa nomor satu itu memberikan kenikmatan, karena melihat penampilan pemimpin nomor satu saat ini yang semakin kelihatan kuyu, dengan kulit bawah mata yang semakin menebal. Ataukah hanya sekedar kenikmatan semu yaitu menjadi penguasa dihormati disana dan disini. Entah apa nikmatnya jika melihatnya pun kita gak pernah menemukan sebuah senyuman yang segar, sinar mata yang cerah dan omongan atau pidato yang membahagiakan.

Negeri Begajul

Politikus negeri begajul itu memang sangat jenius, terutama seorang politikus yang pernah berkuasa dengan diawali sebuah masa sulit, dan dengan teganya membunuh dan membantai sekian juta jelata hingga politikus lawannya. Belum ada yang berhasil mengotak-atiknya meskipun sudah berganti rejim penguasa. Meskipun beliaunya sudah mangkat dan turun jabatan setelah didemo ribuan mahasiswa pada beberapa tahun yang lalu. Hebat dan cemerlang memang, mampu membius jutaan rakyat dan orang pintar di negeri penuh begajul itu. Namun memang nyawa bayarannya ketika berani mengatakan tidak kepada penguasa pada saat itu, bahkan yang menjadi alat negarapun bisa dengan leluasa untuk dar-der-dor seenak perut sendiri.

Bukan sekedar golput

Terngiang ketika pemilu pertama pasca reformasi pada tahun 1999, ketika saat itu pada saat penghitungan suara yang sangat heboh, karena ketika diumumkan hasil untuk suara partai satu persatu perkartu suara, ketika pemilih memilih partai G maka akan terdengar suara umpatan dan huuu... yang panjang, tidak seperti ketika untuk dua partai yang lain yang diberi aplause oleh para penonton. Dan kejadian itu tidak hanya di kampung saya saja namun dimana-mana. Rakyat bersuka ketika mengetahui bahwa salah satu kehancuran bangsa ini adalah dari birokrat partai tersebut, namun yah... hanya sampai di situ saja, setelah itu apalah kekuatan para rakyat kecil itu.

Halaman