Mbah Surip

Selamat jalan Paman Doblang

Bulan Agustus 2009 memiliki arti luar biasa bagi keluarga Bengkel Teater, setelah Mbah Surip kemudian menyusul mas Willy menghadap ke haribaan sang maha kuasa, semoda kedamaian selalu bersama keduanya. Mas Willy sangat mendalam artinya bagi kehidupan sastra di negeri begajul, terlebih ketika dahulu masih berakrab-akrab ria ketika jayanya kelompok Swami kemudian Kantata Takwa, masa-masa bohemian bersama teman dan sahabat yang tidak akan pernah terlupakan dan selalu menjadi bahagian sejarah kehidupan banyak kawula muda saat itu. Kekerasan dan ancaman pada masa orde baru tidak hanya seperti teroris yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari seperti sekarang namun teror yang resmi dilegalkan oleh otoritas maupun teror yang dikembangkan oleh otoritas dengan mencatut pemuda-pemudi kurang gawean yang lapar sehingga menjadi boneka tanpa surat resmi keberadaannya. Begitulah ancaman yang super keras selalu mengancam dan meneror para pegiat demokrasi yang selalu dan saling dukung dengan para seniman sekaligus sebaliknya dalam memperjuangkan kesaksian-kesaksian akan kebejatan otoritas bersama antek-anteknya harus dikemas sedemikian rupa sehingga bersih tidak masuk kategori subversif.

Mbah Surip tutup usia

Selamat jalan Mbah Surip, katanya dengan mengatakan I love you full di rumah Mamik srimulat dirimu meninggal karena gagal jantung, khabarnya pula karena sehari selalu menghabiskan dua puluh gelas kopi, sehingga kondisi tubuhmu nggak kuat untuk mencerna kopi itu lagi sehingga sekarpisangmu tidak kuat lagi memompa kekentalan darahmu karena kopi. Kopi bagi mbah Surip memang seakan sahabat yang tak terpisahkan, bangun tidur hingga malam mau tidurpun selalu minum kopi, memang sahabat sebagaimana I love you full lagu yang diciptakannya khusus untuk warung kopi itupun konon menemaninya untuk menemui sang khalik.

Berlangganan RSS - Mbah Surip