Fidel Castro dan Soekarno

Perangko Soekarno dan Fidel Castro di Kuba
 

Fidel Castro dan Soekarno

Tentang Fidel Castro dan Soekarno sudah sangat banyak yang membahasnya. Apalagi kemarin FIdel Castro meninggal dunia, tentu saja banyak media yang langsung mengulas memorabilia tentang Fidel Castro baik perjuangannya, kebaikannya, persahabatannya hingga kejelekan-kejelekannya. Tentu beragam pandangan sesuai selera penulisnya jika yang anti komunis pasti menulis begini, yang pro revolusioner menulis begitu, dan sebagainya, selain berebut trafik tentu juga rebutan pengaruh atau menghibur selera pembaca yang berbeda-beda pemahamannya. Namun bukti bahwa Kuba menjadi negara yang masih bertahan sampai saat ini dan kemujuran Fidel Castro hingga berusia 90 tahun menjalani kehidupannya, tetap berhaluan kiri atau komunis adalah kenyataan.

Sayang sekali bapak Proklamator kita Ir. Soekarno sudah meninggal setelah dipenjara dan oleh orang yang menjadikan negara kita seperti api dalam sekam, terlihat adem ayem namun panas dan beresiko tinggi. Tiga tokoh idola perjuangan kaum kiri seperti Soekarno, Che Guevara dan Fidel Castro tentu memiliki banyak cerita yang bisa dieksplorasi dalam berbagai narasi yang mencerdaskan dan kritis.

Salah satu yang membuat Fidel Castro nampak hebat adalah dalam kejadian beberapa tahun silam pada pasca Gempa Bantul tahun 2006 adalah bantuan dari Kuba yang berupa rumah sakit dengan dokter-dokternya yang memberikan layanan gratis dan cukup istimewa karena bagus dan jelas istimewa sebab berada pada situasi yang sangat dibutuhkan dan darurat. Ternyata memang itu gambaran apa yang terjadi di Kuba, layanan dasar kepada masyarakatnya cukup bagus. Jika mendengar dari warga Kuba yang memiliki pandangan berbeda tentu saja hal ini akan sangat berlainan. Namun relawan-relawan medis dari Kuba saat itu di Jogja, cukup memberikan gambaran tentang bagaimana Kuba dan Fidel Castro, sebuah negara yang dimiskinkan oleh aliansi negara lain karena perbedaan pandangan politik dan paham dengan cara diembargo secara ekonomi dan finansial. Kasihan betul.

Rejim narasi membuat persepsi para pembacanya menjadi berbeda. Bagaimana mungkin kita bisa mendapati minimnya narasi tentang Soekarno ditambah dengan jarak waktu berlangsungnya kehidupan Bung Karno saat itu. Jika Fidel Castro maupun Che Guevara mungkin saja karena memang jarak geografis dan jarak sosialnya sangat jauh. Mimpi-mimpi Soekarno tentang Nasionalisme Indonesia saat ini sangat sulit dipahami dan dicari, karena tidak ada di layar televisi dan kelas sekolah, apalagi khotbah-khotbah di masjid maupun di rumah-rumah. Jarak semakin jauh, buram dan membuat semakin buram mengapa ada kiri dan kanan.