Semua kebetulan tersebut apakah memang kebetulan yang membuat mata kita terbelalak, ataukah semuanya dalam sebuah nuansa kebijaksanaan yang tidak pernah disadari. Meski jalan memang sudah berkelok-kelok, meliuk-liuk yang mengharuskan semuanya berakrobat sedemikian rupa guna menjaga mata hati dan pikiran agar tetap teguh dan istikomah minimal pada jasad kita sendiri. Begitu jauh dan tercabiknya semua luka yang pernah ada, entah apakah itu memang luka atau sebuah penanda agar kita masuk lebih dalam, merangsang keingintahuan serta menunjukkan bahwa memang beginilah jalan kehidupan yang penuh rintangan, penipuan bahkan segalanya harus terlihat terbalik.
Bilakah semua ketercabikan bisa di runut untuk bisa dirajut meski tidak sesukar tercerabiknya kesalahan-kesalahan masa lalu dengan maaf untuk merajutnya kembali, ataukah maaf tanpa implikasinya bisa menurunkan kadar kejahatan kemanusiaan atas nama persatuan dan kesatuan sebagai sebuah kata sakti serta pupuk yang hanya dibibir namun dalam benak masing-masing pengucapnya sama sekali tidak ada artinya. Bukan itu, tentunya setelah timbul sir dan niat sebagai pembalutnya semua implikasi harus bisa dilahap berapapun bayarannya. Yakinlah bahwa penderitaan dan semua salah seting yang kita kira adalah sebuah pintu yang membawa ke sebuah mata air yang sangat jernih, sebuah mata air kehidupan yang tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Tersadar dan terngiang kembali sebuah ilustrasi di sana, bahwa memang seharusnya begitu, meski jalan berputar dan rute yang tanpa sadar membingungkan ini akhirnya akan bertemu pula pada sebuah titik pertemuan, yang pada perjalanannya nanti baru akan diketahui, apakah titik pertemuan ataukah hanya sebuah persimpangan untuk mengarah ke arah yang sama sekali berlawanan dan berseberangan.
Tiada maaf selain penerimaan yang jujur dan apa adanya, bahwa masa lalu bukanlah kesalahan namun sebuah pintu pengalaman untuk mendewasakan apapun itu yang bertengger di benak. Kehausan dan kelaparan akan sirna saat bertemu dengan air bagaikan sebuah telaga yang luas nan sejuk. Bahwa kemudian ada tawa riang dibalik kecemasan ruhani akan kebenaran fakta yang ada, secara aktual kadang logika sangat tidak beradab dalam memaknainya. Hari demi haripun berjalan dalam sebuah kesejukan oase yang serasa tidak akan pernah kering, bagaimanapun harus dijaga pasokan-pasokannya agar oase tersebut eksis dan berkembang sesuai dengan badaniahnya. Meski airmata kadang menjadi tambahan stok dalam kolam besar namun tiada sua juga janji kebersamaan yang mengkata, semua masih dalam liputan kecemasan akan benak masing-masing yang eksis namun tiada pernah tidak tertepis dengan konteks aktual yang mengiringinya, haruskah nekat menjadi bahan pertimbangan sementara belum tentu arah yang sesuai pernah secara aklamasi terucap.
Ataukah ini sebuah candu, candu yang semua insan pasti memilikinya dalam kemunafikan masing-masing. Bukankah ketika belum bisa melihat sesuatunya dengan kaca walikan kemunafikan itu masih mengental dan menggelinjang dalam dada dan benak. Betapa makin kecil arti diri dalam lautan perjalanan yang panjang
dan luas, tiada tepi pernah ditemui selain mati nantinya. Semua percabangan itu makin membuai bahkan semakin banyak lagi tanpa pernah lelah memberikan iming-iming dalam cabang-cabang yang jauh dan mendekati kemusykilan. Semakin berpikir maka diri ini semakin tidak ada, semakin habis dimakan mimpi, ditelan candu harapan, dibuai anggur khianat diri, dimadu kesesatan berpikir. Aduhai sang maha, apalah arti diri ini tanpa kenyataan yang bisa diperjuangkan, apalah arti tanpa kehadirannya. Bagaimana bisa semua yang berputar tak beraturan itu bisa bertemu kembali dalam sebuah oase yang tanpa sadar memang sudah terbangun, betapa semuanya adalah misteri yang tak terperikan.
So, so you think you can tell Heaven from Hell,
blue skies from pain.
Can you tell a green field from a cold steel rail?
A smile from a veil?
Do you think you can tell?
And did they get you to trade your heroes for ghosts?
Hot ashes for trees?
Hot air for a cool breeze?
Cold comfort for change?
And did you exchange a walk on part in the war for a lead role in a cage?
How, how I wish you were here.
We're just two lost souls swimming in a fish bowl, year after year,
Running over the same old ground.
What have you found? The same old fears.
Wish you were here.
Komentar
ajeng
Kam, 04/03/2010 - 13:59
Permalink
Waduh mas, saya bingung
kakve-santi
Kam, 04/03/2010 - 16:17
Permalink
uhm... saya juga bingung,
cah ndueso
Kam, 04/03/2010 - 17:05
Permalink
mari kita menepi dulu,neng
ciwir
Kam, 04/03/2010 - 18:48
Permalink
ketika menepi atau menengah
antok suryaden
Kam, 04/03/2010 - 19:48
Permalink
ciwir...
Hanif
Kam, 04/03/2010 - 20:19
Permalink
boleh saya berkomentar jujur?
antok suryaden
Kam, 04/03/2010 - 20:33
Permalink
gitu aja kok repot mas... ap
xitalho
Kam, 04/03/2010 - 20:25
Permalink
Pernah disuatu masa saat
antok suryaden
Kam, 04/03/2010 - 20:36
Permalink
bener sampeyan, bagaimanapun
Rindu
Kam, 04/03/2010 - 22:21
Permalink
Setitik embun yang
Halaman
Kirim komentar